
| Category: | | Other |
| Style: | | Other |
| Special Consideration: | | Vegetarian |
| Servings: | | cerpen |
Description:
Dalam MP ini aku mencoba mencoret-coret sebisaku,kalau terdapat banyak kekurangan,saya tunggu saran dan kritiknya
Ingredients:
cerpen ini aku persembahkan untuk umat islam dimanapun berada.selamat menikmati....
Directions:
Cerpen ilmiah
GARA-GARA JILBAB*
By:cho-V**
SIANG itu udara sangat panas. Begitu panasnya hingga bibir Erlin terasa mangering. Setelah mengikuti prof.Albert, Erlin melangkahkan kakinya menuju perpustakaan,mencari beberapa literature untuk tugas eksperimen mandirinya. Tapi karena cuaca begitu panas,Erlin memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di taman fakultas. Membiarkan angin menerbangkan kerudung dan jilbabnya hingga ia bisa merasakan sejuknya angin sampai kedalam jilbabnya.
Erlin merasakan perutnya begitu lapar.ia baru ingat,kalau sejak pagi ia belum makan.lalu dikeluarkannya sebungkus roti yang dibelinya tadi pagi.namun ada yang ganjil,Erlin merasa ada seseorang yang memperhatikannya dan iapun tersenyum ketika tau ada seorang anak kecil bule yang duduk disampingnya sedang memperhatikannya. Erlin tersenyum manis padanya.
"kau mau?" katanya sambil menyodorkan roti coklat ditangannya.gadis kecil itu menggeleng.
"benar kau tak mau? Ambil saja,aku masih ada yang lain kok",lanjutnya,tapi gadis kecil itu tetap menggeleng.
"okey,kalau gitu aku makan sendiri",katanya kemudian,lalu memakan roti coklatnya dengan lahap. Gadis kecil itu masih saja memperhatikan Erlin dari samping,lalu tak lama kemudian mendekatinya dan menarik kerudung Erlin perlahan. Erlin menoleh dan tersenyum.
"kenapa bajumu aneh?" Tanya gadis itu sambil menatap aneh pada Erlin.
"ini tidak aneh. Tuhanku memerintahkanku untuk memakainya", jawab Erlin sambil mendekatkan wajahnya kegadis kecil itu.
"Tuhanmu menyuruh pakai baju aneh begitu?" tanyanya lagi.
"yuups…!" jawab Erlin singkat.
"siapa Tuhanmu?" gadis itu mulai mencondongkan badannya ke Erlin.
"Allah" jawab Erlin sambil mengunyah rotinya.
"apa Tuhanku dan Tuahanmu berbeda?" pertanyaan kali ini diucapkan beberapa menit setelah gadis itu terdiam.
"tidak",Erlin menyukai gadis kecil ini,karena itu setiap pertanyaannya dijawab dengan senyum.
"lalu kenapa Tuhanku tidak menyuruh mamaku untuk memakai baju sepertimu?"
Erlin tersentak. Gadis yang cerdas,pikirnya.
"mamamu…hanya tidak tau",jawabnya hati-hati. Namun beberapa saat kemudian,seorang perempuan berambut cokelat menghampiri gadis itu.
"maaf,kalau putri saya merepotkan anda",kata perempuan yang ternyata adalah mama gadis itu.
"oh…tidak kok,dia gadis yang lucu",jawab Erlin.
Lalu ibu dan anak itu berpamitan untuk pergi. Namun siapa yang akan menyangka,percakapannya dengan gadis kecil cerdas itu ternyata membuat masalah baru bagi Erlin. Dua minggu kemudian tiga orang polisi datang kerumah kos Erlin dengan surat penangkapan. Ternyata si bule melaporkan Erlin ke kantor polisi dengan tuduhan menyebarkan ide-ide teroris kepada anaknya. Dan sekarang Erlin tinggal menunggu kabar tentang nasibnya dalam jeruji tua.
* * *
Malam kian meninggi, rumah itu kini mulai sepi. Di dapur seorang wanita sedang membereskan beberapa perabotan yang sudah kotor. Sementara di ruang kelurga, seorang pria sedang duduk sambil membaca buku tebal yang hampir satu jam tadi ditekununya. Di ruang lain, seorang gadis kecil menyiapkan dirinya untuk beristirahat,meraih selimut tebalnya dan mengambil boneka Winnie the pooh yang ada di atas tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian,wanita yang ada di dapur tadi masuk ke kamar gadis kecil. Duduk di sampingnya dan mengambil beberapa buku cerita yang tersimpan rapi di laci.
"kau mau mom lanjutkan cerita gadis berkerudung merah kita yang terputus kemarin,saying?" tanyanya sambil membenarkan letak bantal gadis kecil itu.
"siapa Tuhan kita mom?" Tanya gadis kecil itu,seolah tak mendengar pertanyaan mamanya.
Sang ibu sedikit terkejut dengan pertanyaan tak biasa yang dilontarkan putri kecilnya itu."Yesus adalah Tuhan kita sayang",jawabnya sabar.
"apa Tuhan Yesus menyuruh kita untuk memakai baju seperti wanita di taman tadi siang?" tanyanya kemudian.
Lagi-lagi ibu gadis itu terkejut,kembali membuka halaman-halaman buku cerita seolah-olah tak mendengar pertanyaan anaknya, "baik saying,mom lanjutkan cerita kita ya?"katanya kemudian.
"kata wanita itu,Tuhan kita dan Tuhan dia sama. dia bilang,Tuhannya menyuruhnya untuk memakai baju aneh seperti yang dia pakai,lalu…kenapa mom tidak memakai baju aneh seperti wanita itu?"
Sang ibu mulai kelihatan jengkel,kemudian menutup halaman buku cerita dan memandang putri kecilnya dengan serius. "sayang…,sekarang sudah malam.bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita tentang hal ini esok pagi saja,okey..??!!"katanya kemudian,lalu dikecupnya kening gadis itu sambil mengucapkan selamat malam dan mematikan lampu kamar.
Pagi hari yang cerah,aktifitas sudah dimulai sejak sejam sebelum gadis kecil itu bangun. Gadis itu keluar dari selimutnya,turun dari tempat tidur,dan berlari menuju ruang makan dengan baju tidur yang masih melekat dibadannya.
"pagi sayang…bagaimana tidurmu semalam?"ujar dad sambil membelai rambut piramnya dan mengecup keningnya, gadis itu cuma tersenyum manis.
"mom…mom janji pada Alice akan menjawab pertanyaan semalam,kan?"katanya mengingatkan. Mamanya kelihatan cuek karena tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya yang bernama Alice itu.
"mom……………",lanjutnya sambil merengek
"ayolah Alice,hentikan itu. Yang bisa mom jelaskan padamu ialah bahwa Tuhan kita adalah Yesus,dan Tuhan Yesus tak pernah menyuruh kita untuk memakai baju konyol seperti gadis di taman itu",jawabnya datar.
"wanita itu terlihat cantik mom,bajunya memang aneh tapi tidak konyol",Alice berkomentar sambil menyuapkan sereal kemulutnya.
"Alice…!!!sudah gak usah diterusin,gak ada pertanyaan lanjutan,key…!?!" kali ini sang mama benar-benar kesal.
"ada apa sayang?" Tanya pria itu akhirnya.
"tak ada,hanya pertanyaan konyol",jawab istri singkat.
"pertanyaan konyol? tentang Tuhan? anak kecil bertanya tentang Tuhan kau bilang pertanyaan konyol?"tanyanya sambil melipat Koran.
"ada apa sich dengan Alice,sayang?" lanjutnya.
Sang istri kemudian menjelaskan tentang pertemuan Alice dengan Erlin kemarin di taman fakultas,dan sampai akhirnya Alice mulai menanyakan tentang hal-hal yang konyol.
"gadis itu sudah meracuni pikiran Alice",lanjut sang istri.
Mendengar penjelasan sang istri,si suami cuma manggut-manggut dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
Gara-gara pertanyaan gadis kecil itu selalu menghantui mamanya,hingga akhirnya sang mama melaporkan hal ini ke polisi dengan tuduhan menyebarkan ide-ide suatu agama kepada orang yang sudah beragama. Alice tak pernah tau kalau pertanyaannya mengakibatkan si gadis berpakaian timur tengah itu berada dalam jeruji besi. Yang ia tahu,si mama tak bisa memberi jawaban atas pertanyaannya tersebut.
* * *
"Masalah stigma lagi,,,teroris? Bagaimana bule itu bisa menyebut Erlin teroris hanya karena bercakap-cakap dengan putrinya? Hhh….kata teroris memang benar-benar telah mengalami pergeseran makna,Nadia",komentar Albert setelah mendengar cerita Nadia (teman dekatnya) tentang peristiwa yang terjadi pada Erlin.
"Anehnya, permainan stigma macam ini sejak dulu selalu diperlakukan terhadap orang-orang penganut islam. Mereka yang berusaha melaksanakan ajaran agamanya dengan serius dan menyeluruh,di cap sebagai fundamentalis,fanatis,dan banyak lagi",lanjut Albert.
"Sejak dulu?" tanya Nadia ingin tahu.
"Orang yahudi memandang islam sebagai gentile,yang secara etimologis berarti orang asing, namun oleh mereka lebih sering dimaknai dengan orang tak beradap.
Demikian juga dalam perang salib,orang-orang Kristen menyebut tentara islam dengan sebutan Saracen,yang mempunyai makna sama dengan gentile. Disamping itu banyak karya terkenal sarjana eropa abad pertengahan yang disusun untuk mendiskreditkan islam,misalnya summa contra gentiles karya st.thomas Aquinas –yang sedihnya lagi karya ini sering digunakan sebagai bahan rujukan oleh sarjana-sarjana islam kontemporer-. Dalam buku ini,Aquinas menyebut Muhammad sebagai penghianat para sahabatnya dan disebut sebagai orang-orang dengan sifat kebinatangan yang tinggal di gurun pasir.
Karya lain yang paling keras yaitu disputation against the sacaren and the quran yang ditulis oleh Ricardo de monte croce yang lebih dikenal dengan judul improbatio alchorani".jelas Albert panjang lebar.
"Tahukah kamu,Nadia?stigma yang diberikan barat pada islam adalah stigma islam sebagai agama yang disebarkan dengan pertumpahan darah.walaupun kenyataannya,sejarah menulis bahwa perang salib justru dimulai oleh pidato paus urbanus II di Clermont (1095) yang membakar imajinasi orang Kristen tentang gagasan "perang suci" untuk mensterilkan dunia dari orang-orang gentiles",tambah Albert dalam penjelasannya.
Nadia terdiam,berusaha mencari celah-celah dari penjelasan Albert, "kau mengatakan ini bukan karena kau benci dengan kapitalis kan,Albert?" tanya Nadia pada akhirnya.
Albert tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak." Aku memang benci kapitalis,sangat benci, namun aku mengatakan semua ini karena itulah faktanya,aku cukup obyektif sebagai pengamat,ya….walaupun kadang-kadang terlihat emosi. Terlepas dari itu semua,apa yang ku katakana padamu semuanya benar",jelas Albert pada Nadia. "dan sekarang sebagai buktinya,temanmu Erlin menjadi korban dari permainan stigma ini".imbuh Albert sembari menghela nafas.
"Aku akan membantu kalian, kita akan selesaikan kasus ini sama-sama, aku janji Erlin pasti akan bebas dari penjara".kata Albert kemudian.
* * *
Ruang sidang tak begitu ramai,hanya beberapa orang yang menghadiri persidangan akhir Erlin.
Erlin dapat melihat Nadia duduk di bangku terdepan,tak ketinggalan teman-teman kuliyahnya juga menghadiri persidangan tersebut.
"Bersyukurlah karena kasus ini tidak sampai dibawa ke pusat",kata Albert suatu ketika pada Erlin. "pengadilan pun mengira bahwa ini semua hanyalah kesalah pahaman. Namun jika kasus ini ditolak,orang asing itu bisa melaporkannya ke kedutaan dan permasalahannya akan makin runyam. Karena itu pihak pengadilan memutuskan untuk menyelesaikan kasus ini di tingkat daerah". Imbuh Albert,dan akhirnya persidangan pun dimulai.
Sidang pertama tak memberikan keyakinan bahwa Erlin benar-benar bersalah. Kesaksian ayah dan ibu gadis kecil itu tak memberikan bukti untuk membuat tuntutan mereka dikabulkan.sampai akhirnya Albert –sebagai pembela Erlin- mengajukan untuk meminta Alice dihadirkan untuk menjadi saksi. Awalnya pihak penuntut keberatan melihat Alice masih di bawah umur,namun tak ada yang bisa mengalahkan argument pengacara muda itu. Ruang sidang pun menjadi riuh bak sebuah pasar kota,dan setelah beberapa menit meminta waktu,akhirnya hakim memutuskan untuk mengijinkan agar Alice menjadi saksi pada siding berikutnya.
Gadis kecil berambut coklat itu duduk di tengah-tengah ruang siding didampingi oleh ayahnya sebagai saksi. Keberadaan sang ayah setidaknya membuat gadis kecil itu marasa nyaman dan mau mengatakan yang sejujurnya tanpa rasa takut terhadap apapun.dan seketika Albert langsung memulai melakukan perannya sebagai seorang pembela.
"Gadis cantik",sapa Albert mulai berkomunikasi dengan Alice. "apa kau mengenal kakak itu?" tanya Albert sambil menunjuk pada Erlin.
Gadis kecil itu mengamati wajah Erlin,dan kemudian mengangguk dengan pelan.
"Dimana kau pernah bertemu?" tanya Albert lagi.
"Di taman,saat menunggu mom". katanya pelan.
"Kau tahu namanya?"
Gadis itu menggeleng.
"okey,apa kau pernah bicara dengannya?"
Gadis itu mengangguk.
"ceritakan pada kami apa yang kalian bicarakan!" kata Albert kemudian.
Gadis itu menggenggam jari dady yang memangkunya dan memandang mom yang duduk di belakang.
"ayo sayang,tak apa,kau hanya bercerita tentang mimpimu kepada mom dan dady seperti biasa yang kau lakukan setiap hari saat sarapan",kata ayahnya menerangkan.
Tak lama lagi gadis itu mulai bersuara."dia makan roti,lalu menawariku karena aku melihatnya terus".
"kenapa kau melihatnya terus?" Tanya Albert sebelum gadis itu melanjutkan ceritanya.
"Karena bajunya aneh",katanya sambil tersenyum pada Erlin. Beberapa orang yang hadir pun ikut tersenyum,kemudian Albert memintanya untuk kembali bercerita. Alice menceritakan kejadian sebenarnya dengan lancar,cerita yang tak berbeda dengan apa yang diceritakan Erlin pada Nadia dan Albert. Dan Albert tersenyum.
"Apa wanita itu berbicara yang lain padamu?" tanya Albert setelah Alice selesai bercerita.
Alice menggeleng.
"Saya brasa tak ada pertanyaan lain dari saya,hakim yang mulia",kata Albert sambil tersenyum puas. Hakim yang baru saja mendengar pengakuan Alice hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah jeda beberapa menit,sidang kembali dilanjutkan. Betapa memuaskannya saat hakim memutuskan bahwa Erlin benar-benar tidak bersalah dan benar-benar bebas dari tuduhan yang sudah dilontarkan pihak penuntut. Erlin diputuskan bebas tanpa syarat,Albert tersenyum bangga,Nadia dan teman-teman yamng lain berpelukan bahagia sambil bersorak-sorak mengumandangkan takbir. Erlin hanya bisa meneteskan air mata kebahagiaan sambil berkali-kali mengucapkan hamdallah. Ruang sidangpun riuh penuh dengan suasana bahagia, sementara itu,Alice gadis kecil manis yang tak tau apa-apa itu hanya bisa diam dan tersenyum saat melihat semua orang tersenyum bahagia.
* * *
*cerita ini terinspirasi dari keadaan umat islam di barat.
**mahasiswa AL-AZHAR fakultas ushuluddin tingkat satu.
Cairo, march 10th,2008 (02.15 pm) wik
