WeLc0mE tO dUNia kAnG mUhYidDiN

k0l3ksI cErpEn @k4n6

RecipeTEROWONGAN MAUTJul 30, '08 9:26 AM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Kids
Servings:   cerpen

Description:
hai semuanya......
kang muhyiddin hadir kembali di layar monetor
hehehe.....

Ingredients:
kisah ini adalah kisah seorang sahaat karibku,kisah ini sengaja di tulis agar para pembaca bisa lebih tegar dalam menjalani hidup

Directions:
Sungguh kata operasi adalah kata yang jarang aku gunakan. Kata yang kedengarannya tak aku suka, lantaran secara subyektif kontan mengingatkan tindakan kekerasan. Apa pula ditambah kata bedah atau pembedahan. Lebih-lebih lagi operasi pembedahan itu bukan tertuju pada orang lain, melainkan pada diriku sendiri. Pada tubuhku sendiri. Pada perutku sendiri. Kedua kata itu – operasi bedah – sungguh membuat aku terkejut melongok, tercenung merenung, bingung.

Hari-hari direjam sakit penyakit, aku rasakan, aku bayangkan, diriku bagaikan sehelai daun menguning nyaris kering di ujung ranting. Antara asa dan putus asa. Runtuh jatuh melayang-layang antara bumi dan kayangan. Betapa gamang kegamangan ini begitu mengerikan dalam kelengang-hampaan. Takut. Rasa takut ketakutan menerjang sekalian menyergap, menelikung jiwa-ragaku dalam kurungan. Aku berteriak. Memberontak. Aku tak mau dikurung pun terkurung dalam kebingungan sekalian rajaman ketakutan.

Dalam mengayunkan langkah menelusuri perjalanan hidup kehidupanku, nyatanya tidaklah sederhana dan mudah. Seperti tertera dalam catatan atau kenangan tertulisku, sejak masa muda remaja sampai lansia. Dalam salah satu lembar catatan, antara lain aku mengaku: Iya, aku terjatuh jatuh bangun. Namun jejak langkah terus ku ayun. Menelusuri rimba raya, lembah, lereng bukit dan gunung ataupun gurun. Ya Allah, Allahu Akbar ! Betapa tabah ketabahan bermakna besar, seraya setia menjaga marwah dalam gairah maupun dalam susah payah. Takkan sekali-kali ku bertekuk lutut sekalipun tegarnya aral perintang, garangnya musuh dan maut. Sekali pun sekali terjatuh aku bangun lagi, mengayun langkah dengan tabah sekalian menjaga marwah.

Aku jatuh terjatuh lalu bangkit kembali menegakkan langkah yang jadi kebiasaanku selama ini. Begitulah. Tekadku tak berubah. Meski aku ngaku, ragaku tidak lagi dalam masa remaja sampai dewasa yang gagah. Iya, memasuki masa lansia terasa kegairah-perkasaan berangsur melemah. Apa pula jatuh terajam penyakit yang tak pernah aku suka pun tak pernah aku duga. Hingga menjadi lemah lantaran kekurangan darah : Anemia adanya. Lantas kini mesti mengalami operasi bedah pula ? Bayangkan saja. Ah… !

Operasi dioperasi dibedah, sesungguhnyalah aku tak suka mendengar ujar kata itu. Apa pula mesti aku sendiri yang akan mengalaminya. Tapi apa daya, hal itu sudah merupakan keputusan dari team kedokteran dan pengobatan Klinik Saint-Jean. Sebagai diagnosa dari pemeriksaan-pengobatan-perawatan sejak aku masuk rumah sakit atau klinik ini. Jelasnya, sebagai hasil kesimpulan dari pemeriksaan yang terakhir aku jalani. Yakni gastroskopi dan kolonoskopi.

Dua pemeriksaan yang aku jalani Jumat kemarin -- pagi-pagi sekali kemudian sore hari -- macam pemeriksaan keadaan kesehatan badan yang paling berat aku rasakan.

Yang pertama. Pagi-pagi sekali aku sudah bangun. Jam enam. Badanku yang sudah lemas bertambah lemas lantaran « puasa ». Tidak boleh makan dan minum sejak kemarin malam. Pagi hari tentu saja tanpa sarapan pagi. Pada jam delapan seorang juru-rawat sudah siap mengantarku, dengan menggunakan kursi-dorong, dari kamar biasa di tingkat tiga turun ke ruangan lantai bawah-tanah. Perutku yang memang sering terasa sakit dan mual, kian bertambah mual saja, ketika turun menggunakan lift.

« Courage, Monsieur, » ujar sang juru-rawat asal Afrika bernama Clemantine – seperti tertera di kartunama tanda pengenal yang nyantel di dadanya. « Gastroskopi merupakan pemeriksaan yang tak menyenangkan. Harap Tuan sabar dan tabah. »

Harus tabah dan bersabar, itulah nasihat sang juru-rawat berkulit-hitam manis teriring senyum, menyerahkanku kepada seorang juru-rawat yang bertugas di lantai bawah-tanah. Di ruangan yang cukup luas memanjang, dengan warna dinding tembok yang putih keabu-abuan. Rasanya dingin kebanding di ruang lantai atas. Dan aku dideret-jajarkan dengan para pasien lainnya. Lantas menyuruhku meminum segelas besar air yang sebenarnya dicampur zat obat pengobatan. Rasanya agak aneh sekalipun ada aroma jeruknya. Setelah tiga perempat jam baru aku dibawa masuk ke ruang khusus untuk gastroskopi. Dibaringkan dengan posisi miring sebelah kiri, di atas meja yang mirip ranjang berseprei putih. Lantas seorang dokter datang menyapa dengan ramah seraya minta kerjasamaku. Agar supaya pemeriksaan berlangsung secara lancar dan mencapai hasil yang diperlukan. Ketika aku penasaran tanya :

« Kerjasamanya bagaimana, Tuan Dokter ? »

« Mudah saja, » katanya, senyum. « Jaga ketenangan, jangan panik. Meski nanti terasa haus dan hangat di tenggorokan. Dan bernafaslah dengan mulut, setuju ? »

« Oui, Docteur. D’accord, » jawabku polos.

Jawaban polosku itu sesungguhnya berupa kepasrahan saja, meski sarat nekad sekalian itikad untuk memulihkan kembali kesehatanku. Dengan mencari sekaligus menemukan sebab-musabab keadaan anemia lantaran terjadinya pendarahan. Maka aku tak berkutik pun tanpa berkata apa-apa lagi ketika menerima saluran oksigin via lubang hidungku. Ketika ada alat di mulutku supaya tetap mangap. Ketika menerima zat yang hangat-hangat panas mengalir di jalur kerongkonganku. Dan ketika, akhirnya, via kerongkongan sang dokter memasukkan pipa mungil yang dilengkapi kamera untuk mendeteksi sekaligus memotret panorama perutku -- usus besar dan jalur kolon-nya sekalian. Rasa perasaan aneh menghujam-rajam diriku, seluruh jiwa-ragaku. Anehnya rasa haus kehausan dan sakit kesakitan yang luar biasa, ketika sang dokter melakukan pencariannya dengan alat yang bagiku aneh pula itu. Kadang rasa haus dahaga begitu terasa. Ah, kehaus-dahagaan melebihi ketika puasa di bulan Ramadan ; mungkin lebih jitu kehaus-dahagaan seperti musyafir di padang pasir ? Kadang pula terasa dingin, seperti terbenam di dasar laut. Tak ubahnya seperti kapal Titanic yang diselami penyelam dengan dilengkapi pipa berkamera untuk mendeteksi sekaligus memotret apa saja yang dianggap penting, sebagai penemuan yang layak disimak dan sebagai pengetahuan bermakna.

Selama beberapa saat panas-dingin merejam badan kian meningkat terasa, sepertinya aku telah kehabisan nafas, nyaris pingsan. Sampai saat sang dokter menarik kembali pipa secara keseluruhan, dan aku bisa bernafas kembali seperti biasanya. Seketika aku pejamkan mata lantaran keletihan. Baru terjaga beberapa lama kemudian ketika sudah kembali berada di kamar pasien di lantai atas.

Agaknya selama dua jam lebih aku terlena dengan nyenyak, membikin badan terasa lebih enak. Hanya untuk mengalami pemeriksaan lainnya – kolonoskopi -- beberapa jam kemudian. Yakni pada jam lima sore. Pemeriksaan yang juga aneh, menimbulkan rasa aneh keanehan akibat alat yang digunakan -- semacam pipa yang juga dilengkapi pendeteksi sekaligus pemotret keadaan kolon. Keanehan yang menerkam rejam jiwa raga terkesankan kenyerian dan kewaswasan serta penasaran. Meskipun berlangsung tidak lama dan betapa sigap-cakapnya sang dokter memanipulasi alat yang digunakannya – mulai dari mulut lubang dubur sampai masuk merasuk ke dalam perut, istimewa ke usus yang disebut kolon itu -- namun kiranya, ya ampun, cukuplah sekali itu saja.

Iya. Sekali itu saja. Masing-masing sekali itu saja – pemeriksaan yang disebut gastroskopi dan kolonoskopi itu. Sekali itu saja dan terakhir kali, akupun bergerak secara otomatik begitu mendengar saran sang dokter supaya aku cepat ke toilet. Gerak cepat seperti robot otomatik dari meja pasien ke toilet hanya untuk secepatnya mengeluarkan isi perut sehabis-habisnya hingga kempis. Untuk kedua kalinya perasaan aneh lantaran keletihan menyergap-dekap jiwa-ragaku. Ketika sang juru-rawat menjemputku kembali ke ruang kamar pasien, aku segera terbaring di ranjang dan tertidur lelap.

Suasana kedua macam pemeriksaan medis itu layaknya membawaku pada kenangan sekaligus pengalaman yang menimbulkan perasaan sarat asa dan ketiadaan asa, campur-baur rasa ngeri dan was-was berkenaan dengan terowongan. Timbulnya rasa perasaan aneh di dalam terowongan sekaligus diri sendiri sebagai terowongan. Terowongan dalam perjuangan hidup-mati di medan laga peperangan, pekerjaan dan di dalam jiwa-raga diri sendiri.

Akan tetapi, suka tak suka, kedua macam pemeriksaan bagaikan terowongan itu, merupakan lanjutan yang wajar. Sebagai mata-rantai tak terpisahkan dari rangkaian pemeriksaan medis lainnya yang tidak bisa tidak dijalani. Karena atas dasar kesemuanya itulah team kedokteran menyatakan diagnosanya, menarik kesipulan dan memutuskan cara terbaik untuk menghentikan pendarahan yang terjadi. Yakni dengan melakukan operasi pembedahan. Operasi untuk melikwidasi tumor yang mengidap di bagian kolon dalam perutku.

Iya. Kolon itu sendiri tak ubahnya bagai terowongan yang selain bisa hidup menghidupkan, sebagai saluran pembuangan sampah atau kotoran dari dalam perut. Sebaliknya juga bisa mematikan jika sang terowongan itu tersumbat atau diidapi tumor yang gawat jadi penyebab pendarahan hingga kehilangan sampai kehabisan darah. *** (26.07.2008) (cho-V)



Recipecinta sekokoh gunungJul 28, '08 9:22 PM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Kids
Servings:   cerita pendek

Description:
halo.haloo..halooo...
ketemu lagi euy dengan akang, ya pastinya dengan coretan yang baru, tapi sebelumnya akang minta maaf ya, kalau lama gk pernah muncul, ya soalnya lagi sibuk nih.

Ingredients:
di bawah ini akang mencoba meraba, sampai mana sich kekuatan cinta itu? akang ulas dengan bahasa cerita yang mudah dipahami, dengan udul "cinta sekokoh gunung" dan semoga para pembaca bisa menemukan cinta yang sebagaimana akang tulis.amiiiin.....

Directions:
MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,

kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan
surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di
kantin
menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.
Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu
matanya
berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya
sibuk merangkai kata-kata yang barangkali
beterbangan
di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari
sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?
menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia
menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania
menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya.
Arisan
keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena
semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga,
sebab
kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta
buntut mereka.

"Kamu pasti bercanda!"
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak
nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan
gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa
lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya
tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
paling cantik!"

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak
sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh
seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang
duduk layaknya pesakitan.

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama
mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa
dengan
nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya
tidak harus iya, toh?"
a
Nania terkesima.
"Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai
dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga
juara debat bahasa Inggris, juara baca
puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan
airmata
mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?"
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga
biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
matanya. "Tak ada yang bisa dilihat pada dia,
Nania!"

Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan
seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak
tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak
punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak 'luar biasa'.
Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang
telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur
duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.
Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa
sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya
dari
sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara
dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.
"Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
Rafli pada Nania."

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata
mereka terlihat tak percaya.
"Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis
secantikmu!"
"Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
pintar!"
"Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan
punya
kehidupan sukses!"

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka
tak
boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu
argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu
sukses,
mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu."

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti.
Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang
anak,
satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya
menggemaskan.
Rafli bekerja lebih rajin setelah
mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu
sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup
senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya
untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan
dengan gaji Abang."

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi
dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa
besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga.
Ya?"

Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik
menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan
biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan
itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang
di
kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek
tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan
bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania
mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu
itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau
membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.
Sudah
lewat dua minggu dari waktunya.
"Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera dikeluarkan!"

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan
sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan
menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan
itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika
semuanya
normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera
melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan
melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu
tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

"Baru pembukaan satu."
"Belum ada perubahan, Bu."
"Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster empat
jam kemudian menyemaikan harapan.

"Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang
tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu
kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.
Perkiraan mereka meleset.

"Masih pembukaan dua, Pak!"
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur
karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi
ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin
payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa
ditelannya.

"Bang?"
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar."

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi
kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak
melepaskan
genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.
Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu.
Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam
perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum
kemudian dia tak sadarkan
diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan
zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
mendekat.
"Pendarahan hebat."
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan
entah bagaimana pecah!

Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi
kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas
yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya
dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat
seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia
harus
membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si
kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat
kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai
empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke
rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga
Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat
Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh.
Toh,
dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu
diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra.

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, Cinta?"
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil
mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang
cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai
pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji
dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra.
Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan
Nania
ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.
Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil
tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?"

Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud
dan
permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi
soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya
di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua
yang
menjadi sumber semangat bagi orang-orang di
sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak
merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan
yang lain, tidak wajahnya yang lama
tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus
akibat
sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan
kening,
serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania
sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama
ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam
tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya,
mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus
kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah
merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin
Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu.
Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan
tak
kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya
pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus
ikut.
Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang
sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua
yang
menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli
yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana
kemari. Masih dengan senyum
hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya
memberi
pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,
semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit
pun
tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang
tiga
orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa
dengungan
dan sempat membuat Nania makin
frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu
kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap
berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu
kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain
basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu
ikut
tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania
menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak
dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih
dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi
sama
karena usia, meski karir telah direbut takdir dari
tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa
dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk
Nania.(cho-V)


RecipeLUKISAN ANGGREK BULANJul 8, '08 6:58 AM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   cerpen baru

Description:
halo sobat.....
hai sobat-sobat semuanya dimanapun berada
jumpa lagi dengan kang muhyiddin
tentunya dengan cerpen yang baru.
cerpen ini terinspirasi dari kejadian nyata
yang bersumber dari seorang teman baikku.

Ingredients:
bagi sobat-sobat semua
bilamana ada kesalahan dalam penulisan ataupun kurang menariknya cerpen ini
saya mohon maaf,yach.....namanya aja belajar nulis,kalau ada kekurangan
dibenerin ya ;)
ya dah selamat membaca.....!

Directions:
LUKISAN ANGGREK BULAN
by: cho-V
Semburat merah jambu di kaki langit mewarnai indahnya senja Pantai Losari. Via duduk termenung di atas bongkahan tembok yang sekali-kali diterjang ombak kecil. Di sampingnya sosok tegap Erik ikut terbuai dalam keindahan Pantai losari senja itu.
Keduanya membisu. Terhanyut dalam sentuhan imajinasi yang teramat romantis untuk dilukiskan sekedar dengan kata-kata.
"Via, udah hampir malam. Pulang, yuk?!" Akhirnya Erik angkat bicara. Via menoleh sejenak. Tersenyum. Sejurus kemudian, tatapannya kembali menerawang di atas hamparan laut biru. Enggan rasanya meninggalkan pantai ini. Erik berdiri, meraih tangan Via dan mengajaknya pulang.
Ayo. Ntar mama kamu marah. Udah hampir malam begini kamu belum juga pulang."
Via tersenyum, tak kuasa menolak tangan kekar Erik yang setengah memaksanya beranjak dari tempat itu. Pulang.
Berdua mereka menyusuri pantai sambil sesekali memungut kulit kerang dan melemparnya ke laut, menyisakan riak-riak kecil.
Via sungguh menikmati kebersamaan ini. Meski dia sadar, tak pernah sekalipun terucap kata cinta di antara mereka. Terlalu prematur menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat. Ya, hanya sahabat. Itu sudah cukup bagi Via. Walau sebenarnya dia sendiri tidak yakin mampu menepis kemungkinan yang lebih dari itu.
Erik adalah sahabat yang baik, juga kakak kelasnya yang paling banyak membantunya selama ini. Meskipun Via baru mengenal Erik tiga bulan yang lalu, ia merasa cowok itu punya kharisma yang pantas dikaguminya.
Perkenalan yang teramat singkat namun berkesan bagi Via. Erik tampil membelanya ketika ia datang terlambat saat orientasi penerimaan siswa baru di sekolahnya.
Kakak-kakak kelasnya yang melihat ekspresi gugup namun sangat polos di wajah imut Via, berebutan menjatuhkan vonis untuknya. Via hanya bisa menatap satu-satu wajah mereka. Mata yang memelas memohon keringanan hukuman atas keterlambatannya malah membuat kakak-kakak kelasnya semakin bersemangat mengerjainya.
Tanpa sadar mata Via berkaca-kaca. Dalam hati, perasaan sedih, takut, malu dan gugup menyatu dan melemaskan sendi-sendi ketegarannya. Ia hanya bisa tertunduk pasrah menikmati bentakan-bentakan kakak kelasnya. Terasa sakit sekali!
"Semua bubar. Biar aku yang mengurusnya!" Sebuah suara tegas penuh wibawa menghentikan eksekusi tak berbelaskasihan itu. Suara milik Erik, Ketua OSIS yang kini berdiri tegak di hadapan Via.
"Nama kamu Via Agustina, kan? Hmm... Nama yang bagus. Aku panggil Via aja ya?" Via mengangkat wajahnya perlahan. Tetapi kembali tertunduk.
"Maaf, Kak. Via terlambat." Akhirnya Via berani membuka mulut. Sekilas ia menangkap dua kata yang tertera di atribut cowok itu, Erik ardiansyah
"Ya sudah. Kamu boleh masuk. Tapi melapor dulu sama panitia dan tinggalkan atributmu di sana," Erik menunjuk beberapa siswa yang duduk menghadap meja di pintu aula sekolah. "Jangan lupa temui aku di ruang sekretariat OSIS pada jam istirahat."
"Terima kasih kak. Permisi!" pamit Via sopan sambil dan beranjak meninggalkan Erik. Dalam hati ia berjanji suatu saat bisa membalas kebaikan Erik.
Tiga bulan berlalu, via merasa sudah amat banyak yang berubah dalam dirinya sejak masuk SMU. Ia merasa semakin dewasa dan memiliki makna hidup yang lebih besar.
Kehadiran Erik walau hanya sebagai teman memberinya banyak peluang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler di sekolah ini.
Entah kenapa Via merasa aman dekat dengan Erik. Ia ingin Eriklah orang pertama yang ikut merasakan suka dan dukanya. Teman berbagi yang bisa menemaninya saat ia sedih, tertawa dan menagis.
Selama ini, mamalah yang menaunginya. Membelainya dan memberinya arti tentang perjuangan untuk meraih semangat hidup. Sekarang ia sudah dewasa. Bahkan lebih dewasa dari teman seumurnya. Besok, tanggal 25 Juli, umurnya sudah tujuh belas tahun.
Untuk kesekian kalinya Via mendesah. Tangan mungilnya masih sibuk menggerakkan sapuan kuas di atas kanvas. Sketsa yang tadi dibuatnya mulai dibentuk menjadi seraut wajah lelaki setengah baya persis seperti foto yang tergantung di dinding kamarnya. Foto papa!
Dua titik kristal bening menetes di pipinya. "Via rindu papa, Entah kenapa Via merasa papa belum meninggal seperti yang diceritakan mama. Akh andai Via bisa melihatmu sekali saja. Via akan senang, Pa. Via nggak bakalan menuntut apa-apa lagi. Cukuplah kehadiran papa. Itulah harta yang sangat berharga. Via sayang papa." Desahnya dalam hati.
Ditatapnya foto itu lekat-lekat. Mata yang begitu teduh. Sepertinya Via pernah melihatnya. Bahkan teramat dekat baginya. Tapi siapa ya? Via terus bertanya-tanya dalam hati.
"Lukisan yang bagus," Via kaget. Ternyata mama sudah berdiri di ambang pintu tanpa disadarinya. "Via belum tidur?"
"Belum ngantuk, Ma," Via berusaha menyembunyikan perasaannya di depan mamanya. Ia ingin terlihat tegar.
"Tidurlah, sayang! Besok kamu masuk sekolah. Malu kan kalau masuk sekolah dengan mata sembab kayak gitu?" Via hanya diam. Ditatapnya lekat-lekat mata mamanya, seakan mencari jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Dan yang didapati hanya satu. Mama menyimpan satu rahasia yang tak ingin orang lain tahu. Bahkan Via sekalipun.
"Via boleh nanya sesuatu, ma?" Tanya Via perlahan. Sesaat mamanya terdiam. Tetapi kemudian mengangguk. "Apa benar papa udah meninggal?" Via menatap wajah mamanya lekat-lekat.
"Via pikir mama bohongin kamu?"
"Via percaya kok sama mama. Cuma. Hati kecil Via yang sulit percaya. Sepertinya mama menyimpan satu rahasia. Ya Sampai sekarang mama belum pernah cerita penyebab kematian papa. Dan di mana kuburan papa. Katakan, Ma! Via bukan anak kecil lagi. Via yakin mama lakukan ini demi kebahagiaan Via. Mama rela berbohong demi Via. Katakan, Ma!! Mama sayang Via. Ya kan Ma?" Via mulai terisak sambil mengguncang bahu mamanya yang hanya diam berdiri mematung. Tanpa disadari, dua titik Kristal bening menetes di pipi wanita itu.
Hening sesaat. Pandangan mama menerawang jauh. Menembus masa lalunya yang pahit. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia tak ingin masa lalunya terkuak kembali. Tapi, haruskah ia terus-menerus berbohong? Demi Via, buah hatinya. Miliknya yang paling berharga. Satu-satunya yang tersisa dari keretakan rumah tangganya. Bagaimanapun Via berhak tahu.
"Mama pikir, sudah waktunya Via tahu semuanya," ujar mamanya nyaris tak terdengar. "Ikut mama! Mama akan memperlihatkan sesuatu sama kamu." Tanpa banyak tanya Via bangkit mengikuti mamanya.
Sebuah lukisan anggrek bulan terpampang di depan mata Via. Di sudut kirinya nampak foto papa dengan mata teduh dan senyum khasnya. Via memandangnya tanpa berkedip. Lukisan yang teramat indah dan hidup meski framenya sudah retak di keempat sisinya.
"Hanya ini yang papa tinggalkan sebelum pergi. Lukisan ini dulunya adalah hadiah ulang tahun mama yang ketujuh belas dari papa. Sebenarnya ada dua. Tapi yang satunya ada sama papamu. Lukisan ini begitu berharga buat mama." Sejenak mama terdiam. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya seakan-akan ingin melepas semua ganjalan di dadanya.
"Papa sekarang di mana, Ma?" Tanya Via hati-hati. Ditatapnya wajah mamanya. Mencoba mencari kejujuran di sana. Namun yang tersisa hanyalah guratan duka menahun. Duka yang selama ini disembunyikan di wajah tulus itu perlahan mulai terkuak.
"Mama nggak tahu. Selama ini mama mengarang skenario kalau papa udah meninggal supaya kamu nggak bertanya terlalu jauh. Mama nggak ingin masa lalu yang menyakitkan itu membayangi keluarga mama. Cukuplah mama memilki kamu. Itu sebabnya mama mengikutkan kamu kursus ini dan itu supaya kelak kamu bisa mandiri. Mental kamu sudah siap menerima kenyataan yang menyakitkan sekalipun. Mama akui kamu butuh figur papa, meski mama telah berusaha menjadi mama sekaligus papa bagi kamu."
"Kalau Via boleh tahu, kenapa mama pisah sama papa?" kejar Via. Mamanya menunduk dalam-dalam. Berusaha menggali memori yang telah dikuburnya dalam-dalam.
"Keangkuhan. Ya, waktu itu mama ditawari kerja dari perusahaan berkelas internasional karena mama alumni Universitas terkenal di Australia. Papa nggak setuju. Katanya sepintar apa pun wanita, toh akan kembali juga mengurus rumah tangga." Sekilas mama menelan ludah getir. "Sejak itu, pertengkaran-pertengkaran kecil selalu menjadi warna rumah tangga. Mama nggak nyangka kalau pertengkaran itu berbuntut perpisahan. Seandainya ada yang mau mengalah. Kejadiannya nggak bakal seperti ini. Maafkan mama, Via! Sebenarnya mama pun sempat berpikir, mungkin ini hanya keputusan emosional, lagipula saat itu mama mengandung kamu. Mama sungguh takut nggak bisa membahagiakan kamu."
"Tapi mama masih mencintainya, kan?" Tanya Via.
"Mungkin." jawab mama singkat. Terlalu berat baginya memastikan perasaannya saat ini. Meski sadar selama ini dia berusaha menentang kata hatinya.
"Kalau mama masih mencintai papa, kenapa nggak ada niat kembali? Demi Via, Ma. Demi Via!! Mama tahu Via butuh kasih sayang papa."
"Mama ngerti, Via. Setelah perpisahan itu, mama kembali ke Makassar, mencoba memulai hidup baru. Tapi mama masih berusaha mencari tahu tentang keberadaan papamu. Sejujurnya mama nggak bisa melupakan bayang-bayang papa, apalagi si kecil Arman yang baru berumur 2 tahun."
"Arman???" Tanya Via penasaran.
"Kakakmu. Waktu itu pengadilan memutuskan Arman ikut papa demi masa depannya. Arman. Oh Arman, Sekarang dia pasti sudah besar. Tapi Dia nggak kenal mamanya mama yang mengandung dan melahirkannya." Desis mama tersendat. Air matanya tak tertahan lagi. Hati Via trenyuh. Hanyut dalam tangis dan pelukan mamanya. "Sebenarnya mama pernah mencarinya tapi mama kehilangan jejak mereka. Mereka meninggalkan Medan enam bulan setelah peristiwa itu."
"Udahlah, Ma. Itu bukan salah mama. Via nggak masalah kok. Justru Via harus berterima kasih ama mama. Mama terlalu banyak berkorban untuk Via." Ujar Via menetralisir gejolak hatinya. "Oya, udah larut malam nih. Via besok ada ujian kuis. Via tidur dulu ya!" Via mengecup pipi mamanya dan beranjak kembali ke kamarnya. Dia tidak ingin mamanya larut dalam kesedihan yang dalam. Cukuplah, ia sudah tahu semuanya.
Jarum jam menunjukkan Pukul 00.05. Ponsel Via berdering. Siapa lagi yang menelpon malam-malam kalau bukan Erik.
"Happy Birthday, My dear! " Suara usil Erik dari seberang. Via terharu. Erik yang paling pertama mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
"Thanks, Erik. You are the first to say happy birthday to me." Via tersenyum senang.
"Ooo. Im the first and may be the best." Erik tertawa renyah.
"Anything else?"
"Oya. Besok, sepulang sekolah, kita singgah di rumahku. Aku ada kejutan. Special for you. Aku tunggu di tempat parkir ya. Bye.!!" Telpon diputus tanpa memberi kesempatan Via bertanya lebih jauh.
Sepuluh menit Via duduk menunggu. Sosok Erik belum juga nongol. Via jadi bete. Dalam hati ia menggerutu.
"Hai, My dear. Dari tadi?" entah dari mana datangnya Erik sudah berdiri di sampingnya dengan mimik tanpa dosa.
"Dasar gilingan!! Aku sudah sepuluh menit menunggu. Kemana aja sih?"
"Sorry, Non. Biasa, Asisten Pak Anton. Habis bantuin beliau bawa peralatan lab."
Detik berikutnya, Feroza violet milik Erik melaju di atas aspal mulus, menembus rinai gerimis siang itu. Sepanjang jalan, via lebih banyak diam.
"Via!" tegur Erik memecah kesunyian. "Mungkin ini ultahmu yang pertama sekaligus terakhir yang bisa kita rayakan bersama. Tahun depan papa rencana memboyongku ke NewYork untuk kuliah di sana. Itu berarti kita nggak ketemu lagi."
"Itu kan kesempatan, Erik. Kapan lagi bisa sekolah di luar negeri. Sebagai teman dekatmu, aku ikut bangga, kok." Ujar Via datar. Meski hatinya menjerit. Bayangan kehilangan sosok sahabat sejati seperti Erik menggiringnya pada suasana hati yang hampa. Tanpa Erik, tak akan ada lagi yang istimewa. Hari-harinya hambar, tanpa tawa dan canda usil Erik.
"Masalahnya bukan itu, Via. Aku takut kehilangan kamu." Desis Erik lirih. Via tersentak. Erik menyadari perubahan air muka Via. "Maksudku, aku menganggapmu bukan hanya sekedar teman, tetapi juga sebagai adik yang mengisi kekosongan hari-hariku. Papa terlalu sibuk. Di rumah aku nggak punya teman."
"Mama kamu?" Tanya Via
"Mama?" Erik mengulang pertanyaan via. "Mama meninggal waktu aku masih kecil." Jawab Erik nelangsa. Via sedikit menyesal dengan pertanyaannya barusan.
"Sorry, Erik, aku nggak bermaksud membuatmu sedih."
"Nggak apa-apa kok, Via. Aku justru senang kamu care ama aku. Itulah sebabnya aku berat meninggalkan kamu." Sejenak Erik terdiam seperti kehabisan kata-kata. "Oya, kamu ingin kado istimewa apa untuk ultahmu?" Erik mencoba mengalihkan pembicaraan. Pandangannya beralih ke wajah imut Via. Via menggeleng.
"Aku nggak perlu sesuatu yang istimewa. Ucapan selamat pun udah cukup. Cuman" Via menggantung kata-katanya.
"Cuma apa?" desak Erik sedikit heran.
"Akh nggak kok." Via menelan ludah. "Andai kau tahu, Erik. Aku merindukan papa. Kalau saja papa bisa hadir bersamaku, itulah kado paling istimewa. Dan hanya Tuhan yang bisa memberinya. Bukan kamu, Erik. Bukan juga mama. Aku sungguh ingin melihat seperti apa rupa papaku yang asli. Selama ini hanya foto yang bercerita padaku. Itu pun hanya sepenggal. Ya, papa memiliki mata teduh, periang namun tegas. Hanya itu yang bisa diceritakan selembar foto berbingkai di kamarku. Juga lukisan itu. Ya, masih ada satu, Erik. Aku yakin papa orangnya romantis, berjiwa seni dan penyayang. Mungkin jiwa papa seperti aku. Senang melukis dan sedikit melankolik. Lukisan anggrek bulan itu sedikit banyak juga berbicara tentang papa". Jerit batin Via.
Selanjutnya Via hanya membisu hingga perlahan feroza violet itu memasuki pekarangan yang tertata rapi dan natural.
Dengan sedikit ragu, Via melangkah memasuki ruang tamu yang sudah didekorasi dengan sangat indah. Di tengah ruangan, di atas meja ada kue tart dengan tulisan "HAPPY BIRTHDAY" berwarna biru berbaur dengan warna merah muda.
"Apa-apaan ini, Erik?" Via…. surprise. Keharuan menyeruak ke dalam hatinya. Erik hanya tersenyum.
"Special for you. Kita rayain berdua ya? Ayo, sini tiup lilinnya." Ajak Erik sambil menarik tangan Via. Via menurut. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Via terbelalak ketika tatapannya terbentur pada sebuah lukisan anggrek bulan yang terpampang jelas di dinding ruang tamu. Tanpa pikir panjang dia berlari mendekati lukisan itu. Di sudut kiri lukisan itu ada foto papanya. Persis sama dengan lukisan di kamar mama. Ditatapnya sekali lagi tanpa berkedip. Tidak salah lagi. Dia baru sadar, ternyata mata teduh itu, Oh Mata teduh itu juga milik Erik.
"Itu lukisan dan foto papa. Kado ultahku yang ketujuh belas dari papa. Kalau kamu suka, ambillah!" Erik tiba-tiba berdiri di belakang Via. Via menoleh, Detik berikutnya ia menghambur kedalam pelukan Erik yang masih terbengong-bengong.
"Kakak…,kak Arman….!!!!!!"



Cairo,07 juli 2008
Pukul 03.00 wik


RecipeMENCARI SENYUMJun 30, '08 5:02 AM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   cerpen islami

Description:
Halo.....
sobat-sobat tercinta dimanapun berada.
kang muhyiddin muncul lagi nih
ya pastinya dengan cerita yang baru
cerita ini saya angkat agar para pembaca bisa lebih mendekatkan diri padaNYA,sehingga kita pun bisa tersenyum,ya...senyum yang indah,yang murni keluar dari hati nurani,dan bukan senyum kebohongan.

Ingredients:
sobat tercinta
ketahuilah bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemui tatkala kita dapat menggapai cahaya...
yah....hanya cahaya Illahi yang mampu merekahkan senyuman terindah.

SELAMAT MEMBACA

Directions:
cho-V
Seorang lelaki tua dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.
Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu lalang di kota itu.

Lelaki Tua: “Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…!” (mengiba, mengulang-ulang perkataannya)

Dua lelaki muda melintas di hadapannya. Memandang sekilas kemudian menghampirinya. Lelaki tua itu terus merintih-rintih. Beberapa orang lewat begitu saja tanpa peduli.

Lelaki 1: “Ada apa, Pak? Ada apa?” (memegang tangan, membimbing lelaki tua itu bangkit)

Lelaki 2: “Ya, apa ada yang bisa kami bantu?” (prihatin)

Lelaki Tua: “Tolonglah saya. Tolong! Saya…saya mencari sesuatu yang telah tak ada lagi di kota kami.”

Dua lelaki muda itu saling berpandangan heran.

Lelaki 1: “Sesuatu yang tak ada lagi di kota bapak?”

Lelaki Tua: “Ya…,aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami.” (manggut-manggut, sedih)

Lelaki 1 dan lelaki 2: “Apa itu…?”

Lelaki Tua: (menerawang penuh harap) “Sebuah senyuman.”

Lelaki 1 dan 2: “Senyuman?”

Lelaki 1: “Aneh. Bapak bilang bapak mencari sebuah senyuman. Apa saya tidak salah dengar?”

Lelaki Tua: (menggeleng-gelengkan kepala) “Ya, aku sudah berjalan begitu jauh, mencari sebuah senyuman.”

Lelaki 2: “Jangan bergurau! Semua manusia diciptakan dengan wajah. Di dalam wajah kita, ada bibir yang bisa digerakkan begini, begini dan begitu (menggerakkan bibirnya ke depan, ke samping dan sebagainya dengan kesal).

Lelaki 1: “Ya, bahkan orang segila apa pun masih memiliki senyuman. Aku benar-benar tak mengerti. ”

Lelaki Tua: “Kalau begitu kalian menganggapku lebih dari gila!? (sewot). Dengar, aku tidak mengada-ada! Semua orang di kotaku sudah tak bisa lagi tersenyum! Titik!”

Lelaki 1 dan 2 saling berpandangan kembali.

Lelaki 1 : (menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal) “ Baiklah. Sesuatu terjadi tentu ada sebabnya. Mungkin aku pun telah gila, tetapi aku ingin tahu hal apa yang menyebabkan penduduk di kota kalian tak bisa tersenyum?”

Lelaki 2: “Ya, apa ada orang-orang yang berkeliaran dan menjahit semua bibir penduduk di kotamu, sehingga mereka tak bisa lagi tersenyum atau membuka mulut untuk tertawa?” (mengejek)

Lelaki Tua: (menggeleng, serius) “Tidak. Bahkan jahitan-jahitan di mulut kami telah dilepaskan. Dulu memang penduduk kota kami tidak bisa bicara, kecuali (mencontohkan) Hm…hm…(mengangguk-angguk), tetapi kini, setelah jahitan-jahitan dilepaskan dari bibir kami, entah mengapa bibir kami menjadi kebas. Kami bebas berkata-kata tetapi tak bisa lagi tersenyum. Bahkan, bila kami mencoba untuk tertawa yang keluar adalah amarah, tangisan dan airmata….”

Lelaki 2: “Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lebih baik aku pergi daripada mendengarkan celotehan orang gila ini!” (kesal dan berbalik akan pergi)

Lelaki 1: (mengejar lelaki 2 yang bergegas pergi) “Tunggu, teman! Tetapi…kurasa, entahlah…, ia datang dari jauh, mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, dan mungkin kita bisa kita menolongnya.”

Lelaki 2: (cemberut) “ Menolong? Bagaimana menolong orang gila ini?”

Lelaki 1 bergegas menghampiri lelaki tua itu.

Lelaki 1: “Katamu seluruh penduduk di kotamu tak dapat lagi tersenyum?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut): “Ya…,ya….”
Lelaki 1: “Berarti kau juga?”

Lelaki Tua: (manggut-manggut lagi) “Tentu saja!”

Lelaki 1 bergegas kembali menghampiri Lelaki 2. Wajahnya lebih cerah.

Lelaki 1: “Dengar, lelaki tua itu mengaku bernasib sama dengan seluruh penduduk di kotanya! Ia juga tak bisa tersenyum! Tugas kita adalah menolongnya agar ia bisa tersenyum lagi! Nah, setelah ia bisa tersenyum kembali, mungkin hal ini akan berpengaruh pada para penduduk kota itu.”

Lelaki 2: (Bengong) “Jadi…kita harus membuatnya tersenyum?“

Lelaki 1: “Ya, tunggulah sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang membawa makanan dan minuman yang enak untuknya. Siapa tahu ia akan tersenyum.”

Lelaki 2: “Tentu saja (setuju, yakin), ia akan tersenyum dan berterimakasih pada kita.”

Lelaki 1 meninggalkan tempat itu. Lelaki 2 sesekali memperhatikan si lelaki tua. Wajah lelaki tua itu keras, dingin, dan penuh curiga.

Tak lama, Lelaki 1, kembali bersama seorang lelaki lain bergaya genit (lelaki 3) yang membawa baki penuh berisi makanan dan minuman yang enak. Mereka meletakkan nampan besar itu di hadapan si lelaki tua.

Lelaki 1: “Ini kubawakan makanan dan minuman lezat. Nikmati dan tersenyumlah.”

Lelaki Tua: (memakan makanan dan minuman itu dengan rakus) “Terimakasih….”

Lelaki 2: (menghampiri) “Mengapa kau tak mengucapkan terimakasih sambil tersenyum pada kami?”

Lelaki Tua : “Sudah kukatakan, aku tak bisa tersenyum!”

Lelaki 1,2,3 saling berpandangan.

Lelaki 2: “Aku akan menggelitik kakinya. Biasanya bila digelitik, orang pasti akan tertawa!”

Lelaki 1 : “Ya, ya…, ide yang bagus!”

Lelaki 3: (bindeng) “Aih, ike juga setuju!”

Lelaki 2 segera menggelitik kaki lelaki tua itu, tetapi tak ada reaksi. Ia menggelitik sekujur badan orangtua itu. Sia-sia. Lelaki tua tersebut tak juga tertawa. Akhirnya ketiga lelaki itu menggelitik sekujur badannya secara bersamaan.

Lelaki Tua: “Aduh…aduh, sakit! Aduh perih! A…duh!” (mengerang)

Lelaki 1,2,3: (Terkejut, menghentikan tindakan mereka) “Sakit? Perih?”

Lelaki 2: “Mengapa kau tak tersenyum? Seharusnya kau tertawa! Orang akan tertawa bila kegelian!”

Lelaki tua: (melotot) “Aku tidak bisa, tahu! Bodoh! Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, aku tak bisa lagi tersenyum. Jadi berhentilah melakukan hal yang konyol! Tolong aku, anak muda!”

Lelaki 1,2,3 berpandangan keheranan.

Lelaki 1: (bangkit) “Sebentar, aku punya akal!” (pergi)

Lelaki 2 dan 3 bangkit sambil memandang lelaki tua itu sebal. Mereka bolak-balik di hadapan lelaki tua itu sambil memikirkan cara membuatnya tersenyum. Sesekali lelaki 2 nyengir kuda melihat gaya lelaki 3 yang centil. Tetapi lelaki tua itu sama sekali tak bergeming.

Lelaki 3 (bindeng): (berlari gembira menghampiri lelaki tua itu) “Aih, aku punya dollar yang banyak! Kau mau? Ambillah? Nih, ini! Semua menjadi milikmu!”

Lelaki Tua: “Untukku? Boleh.” (memasukkan semua dolar ke sakunya).

Lelaki 3 : (bengong, bindeng) “Mana ucapan terimakasihmu?”

Lelaki Tua: “Terimakasih.” (datar)

Lelaki 3: (kesal, bindeng) “Di mana-mana, orang itu kalau dikasih bantuan, apalagi uang, matanya berbinar-binar, hati menjadi girang dan ia akan tersenyum bahkan tertawa. Bagaimana sih?”

Lelaki Tua: (cemberut) “Ngasih kok nggak ikhlas. Sudahlah, tolong saja aku dan para penduduk kota agar bisa tersenyum kembali….”

Lelaki 2 dan 3: “Huh!” (kesal)

Tiba-tiba, lelaki 1 datang bersama seorang badut yang lucu sekali. Badut itu menari-nari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sang Badut mengitari lelaki tua dan mencoba terus menghiburnya.
Badut (jenaka) : “Apakabar, Pak tua? Tralala trilili, aku pelucu, penghibur semua orang (tertawa-tawa), janganlah takut!” (badut memamerkan berbagai aksi lucu)

Lelaki 1,2,3 : (tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi badut)

Lelaki tua itu menatap Sang Badut agak lama, lalu di luar dugaan, ia malah menangis. Lambat laun tangisan itu berubah isakan yang semakin kencang. Lelaki 1,2 dan 3 keheranan.

Lelaki Tua: ( Menangis, sedih sekali) “Mengapa harus ada orang sepertimu? (menunjuk-nunjuk badut). Setelah tiga puluh dua tahun kepedihan ini kau muncul dengan konyolnya.”

Lelaki 3: “Aih, apa maksudmu, Pak Tua!”

Lelaki 1: “Ya, bukankah seharusnya badut dapat membuat orang tersenyum dan tertawa?”

Lelaki Tua: (menangis)“Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman. (mencoba berhenti menangis) Dengar! Kami hanya bisa menertawakanmu dalam kegetiran terpencil di sudut sanubari kami. Kalian tak bisa membodohi kami. Sebab kalian cuma badut! Bahkan bila kalian mengenakan jas, dasi atau sorban sekali pun! Senyumku bukan untuk orang seperti kalian!”

Lelaki 2: “Oh, Tuhan! Aku tak mengerti! Ia malah marah!”

Badut: (Kesal) “Ya, sudah. Lebih baik aku pergi.”

Lelaki 1 dan 2 berpandangan bingung sambil menggelengkan kepala. Lelaki 3 dengan centil melambai-lambaikan tangannya pada Sang Badut.

Lelaki 3: “Aih, daaag, Om Badut!”

Suram. Ke empat lelaki itu termenung sesaat.

Lelaki Tua: (berjalan,mencari, mendamba)“Senyuman…,di mana senyuman itu? Aku ingin membawa berjuta senyuman kembali ke kota kami…, senyuman…mana senyuman itu? Kehidupan kota kami bagai mati tanpa senyuman….” (merintih sedih)

Hening.

Lelaki 1: (berteriak) “Pak Tua! Hei, Pak Tua! Sebenarnya siapakah yang mengambil semua senyuman dari kota kalian!?”

Lelaki 2: “Ya! Itu yang belum kau ceritakan pada kami!”

Lelaki Tua: (mengernyitkan kening, menggelengkan kepala, menerawang) “Aku tidak begitu pasti. Mereka para penjarah.”

Lelaki 2: “Penjarah? Apa yang mereka jarah?”

Lelaki Tua: “Apa saja. Harta, kedudukan bahkan kehormatan. Mereka menjarah beras, gula juga perempuan. Mereka membakar dan membuat onar. Memaksa kami menggigil karena takut dan lapar, setiap malam dan siang. Mereka bermain-main dengan darah lalu tiba-tiba para ulama kami mati. Kemudian tak ada lagi senyum yang bisa kami temukan. Semua senyum mereka rampas, untuk mereka bagikan pada orang-orang gila yang kini berkeliaran di kota kami…. “

Hening lagi.

Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Lelaki-lelaki itu mencari arah datangnya suara dan terkejut melihat banyak orang menuju ke arah mereka. Wajah orang-orang itu seperti mencari sesuatu. Lelaki 1 segera menghampiri salah seorang di antara mereka.

Lelaki 1: “Siapa kalian? Darimana dan hendak kemana?”

Orang 1: “Kami mencari orang-orang yang bercahaya.”

Lelaki 2: (menghampiri) “ Orang-orang yang bercahaya?Apa maksudmu?”

Orang 1: “Kami telah kehilangan senyuman. Hanya orang-orang bercahaya yang bisa mengembalikan senyum kami.”

Lelaki Tua : ( tersentak, tergopoh-gopoh) “Jadi kalian juga seperti aku? Hidup tanpa senyuman?”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

Lelaki Tua: “Dan hanya orang-orang yang bercahaya, yang bisa membuat kita kembali tersenyum?”

Orang 1: “Ya.”

Lelaki 2: “Siapa mereka? Di mana mereka?”

Orang 1: “Entahlah. Kita bisa jelas mengetahui, ketika kita melangkah di jalan cahaya….”
Lelaki Tua: “Melangkah di jalan cahaya?”

Orang 1: “Ya, melangkah di jalan cahaya!”

Orang-orang itu mengangguk-angguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tiba-tiba lelaki tua menyusul. Ia berlari ke arah orang-orang itu.

Lelaki Tua: “Aku ikut! Cahaya! Cahaya!” (berlari meninggalkan ketiga lelaki yang tampak bingung).

Lelaki 3: “Aih, masak sih senyuman begitu susah dicari. Sampai harus menuju cahaya segala. Lihat nih (pada lelaki 2), senyumku manis kan?”

Lelaki 2: (melompat, terbelalak) “Itu bukan senyuman! (pada Lelaki 1) Teman, lihatlah, seringainya! Menyeramkan!”

Lelaki 3: (bingung, mencoba tersenyum, tetapi yang tampak seringai yang mengerikan)

Lelaki 1: “Benar! Kkkau menakuti kami! Seharusnya kau tersenyum. Lihat senyumku, ini…”

Lelaki 3: (takut) “Aih, tolong!! Senyummu membuatku takut! Toloooong!” (lari meninggalkan Lelaki 1 dan Lelaki 2).

Lelaki 2: “Berhenti tersenyum! Kau menyeramkan. Nah, lihat senyumku (mencoba tersenyum, tetapi kaku) “A…apa yang terjadi…, a…aku tak bisa tersenyum….”

Lelaki 3: (memegang bibirnya) “A…aku juga…,mengapa bisa begini? Apa yang…sebenarnya terjadi?”

Panik.

Lelaki 1 dan 2: (sedih, bingung) “Senyuman…, di mana senyuman? (mencari, melangkah tak tentu arah) Cahaya…, cahaya… di mana cahaya? Senyuman…senyuman… di mana senyuman…? Cahayaaaa!?? Senyumaaaann!?? Senyumaaaan!?? Cahayaaaa!??”


cairo, 29 juni 2008
pukul 02.00 wk


Recipecerita romantisJun 19, '08 3:19 AM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Kids
Servings:   sebuah arti cinta

Description:
halo kawan-kawan berjumpa lagi nih dengan bangshofi,oia ni cerpen terbaruku di baca n jangan lupa di komentari ya pren......

Ingredients:
selamat membaca...!

Directions:
AIR MATA CINTA*
By: cho-V**

Terus ku ikuti aliran sungai lamunanku akan gadis berjilbab putih yang hampir setahun menghantui fikiranku. Aku tak pernah membayangkan akan seperti ini. Aku sadar, mawar tak selamanya memberikan keceriaan hati pengobat lara jiwa, suatu saat ia dapat merusak kulit ari dengan duri-durinya yang tajam.

Malam yang dingin menebarkan kesunyian disetiap sudut, ditambah dengan rinai suara rintik gerimis menari-nari di atas genting, sang rembulan pun sembunyi dibalik awan kelam seakan malu menatap diri yang terhempas badai ini. Aku tak tahu kepada siapa harus mengadu, semuanya seakan sedang menutup pintu rapat-rapat.
Tanpa kusadari, dardak datang menutup jendela kamar itu.
"hei…….bengong aja kerjaannya. ada apa sich?" sapa dardak.
"oh…….kamu dak, nggak kok, nggak ada apa-apa", jawabku sambil tersenyum.
"halah….ojo mbujuk to! Kamu dari kemaren mulai sering melamun, nggak seperti Adin yang ku kenal dulu, yang semangat, kreatif, dan paling rajin masuk kelas. Aku yakin pasti kamu punya problem yang memenuhi otakmu. Ayolah,,,ceritakan padaku,may be i can help you to solve it". Dardak mulai mengeluarkan jurus andalannya. Memang ini sudah menjadi gaya dan sifatnya ketika ada teman yang murung, sedih dan sering melamun.

Aku tak langsung menjawabnya, aku hanya tersenyum dan mengalihkan pandanganku ke jendela kamar yang tadi ditutup olehnya.

"aku……aku sebenarnya nggak ada problem kok, aku…emmm…aku cuman sedang berpikir aja tentang sesuatu, makanya aku kelihatan sedang melamun, kamu nggak usah khawatir lah", helahku sambil berusaha menghibur.
"berpikir apa?" tanya dardak dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya dan rasa penasaran, dan mungkin dia sudah tahu kalau aku sedang membohonginya.
"anu……aku sedang berpikir untuk menentukan alur cerita drama yang akan kita tampilkan besok", jawabku sambil meyakinkannya.
"ooo…..githu to!"
"ya……begitulah" jawabku sambil tersenyum, dalam hati, aku yakin sebenarnya dardak sudah tahu kalau aku sedang membohonginya, karena dia tahu kalau alur cerita drama itu sudah selesai dan sudah aku serahkan pada faisol, yang juga teman satu kelompokku. Dan mungkin dardak juga sudah paham kalau aku punya problem yang tidak bisa aku ceritakan padanya sekarang.

* * *

Keesokan harinya, seperti biasa, aku dan keempat temanku yang lain –tidak termasuk faisol dan dardak- berangkat ke sekolah untuk mengajar. Yach, walaupun jalanan desa sedang becek disebabkan hujan lebat semalam, namun mau nggak mau aku dan kawan-kawan harus tetap berangkat, guna menjalankan kewajiban (walaupun harus dengan menjinjing celana tinggi-tinggi biar tidak kotor terkena becek).

Di desa ini, tepatnya desa sarirejo lamongan, kami melaksanakan tugas akhir dari pesantren sebelum boyongan, yang biasa disebut dengan PKL (praktek kerja lapangan), PKL ini sudah menjadi tradisi pesantren kami, dimana sebelum para santri pulang dan terjun ke masyarakat, mereka digembleng dan dididik supaya bisa berinteraksi dengan masyarakat. PKL ini biasanya ditempatkan di daerah pelosok pedesaan yang mungkin masih minim tingkat pendidikan khususnya keagamaan masyarakatnya. Dan kebetulan di desa ini kami sekelompok bertujuh ditugaskan selama kurang lebih setahun mengemban amanat ini.

Dalam PKL ini, pengasuh pesantren selalu berpesan agar tidak melakukan hal-hal yang sekiranya bisa mencoreng nama baik pesantren, andaikata itu sampai terjadi, pengasuh pesantren terpaksa tidak meluluskan kami, dan hal itulah yang paling kami takutkan, bukan karena tidak lulusnya, tapi kalau sampai hal ini terjadi kami takut kalau pengasuh akan mengeluarkan kami dari pesantren tanpa restu beliau, dan hal ini akan membuat orang tua kami maerasa malu dan bersalah pada pesantren.

"assalamualaikum, pak!" sapa pak karjo penduduk setempat yang hendak pergi ke sawah.
"waalaikum salam warahmatullah", jawab kami serempak.

Sepanjang jalan dari kos-kosan tempat kami tinggal sampai sekolah, kami disibukkan dengan menjawab salam para penduduk yang kebetulan berpapasan dengan kami, dan hal ini selalu kami alami setiap hari.

* * *

"Assalaamualaikum, selamat pagi adik-adik…", sapaku memulai mengajar.
"Waalaikumsalaam warahmatullahii wabarakaaatuh, selamat pagi pak guru…", jawab mereka kompak.
"Adik-adik semua, hari ini kakak akan mengajarkan rumus dan cara cepat mengerjakan soal-soal tentang kesebangunan, nah adik-adik rumus luas segi tiga adalah L =1/2aXt……", panjang lebar aku menjelaskan pelajaran tersebut pada murid-murid yang biasa aku panggil adik, karena aku merasa kalau aku belum patut untuk menyandang gelar ustadz, karena disamping usiaku yang relative masih muda, ilmu yang ku miliki juga tak sepadan dengan gelar tersebut, dan aku merasa ada beban moral dalam panggilan tersebut.

Hari itu aku pulang duluan, ketika murid-murid sedang pada istirahat, karena kebetulan saat itu aku hanya ada dua mata pelajaran yakni sebelum waktu istirahat.

Saat perjalanan pulang,"pak Adin…, monggo singgah sekedap ten gubuk kulo!" sapa pak Rt menawariku mampir ke rumahnya. Sebenarnya aku dan teman-teman sudah biasa main di rumah pak Rt, bahkan bisa dibilang sangat sering, namun setelah kejadian itu, aku agak takut main bahkan mampir ke rumahnya.

"aduh……matur suwun sanget pak, ngapunten mawon kulo katah kerjaan,insya Allah mbenjang sak mantune rampung kulo mriki", jawabku pada pak Rt dengan menggunakan bahasa jawa yang halus. Dan setelah itu aku langsung tinggalkan pak Rt yang berdiri mematung di depan rumahnya.

* * *

Di rumah, aku tak melihat dardak dan faisol, yang aku temukan hanyalah sebuah piring tergeletak di atas meja berisikan beberapa potong lumpia dan semangka yang aku yakin itu adalah pemberian dari tetangga kami. Memang begitu warga desa ini, mereka tak pernah berhenti walau hanya sekedar memberi beberapa potong kue.

Sejenak kemudian ku langkahkan kakiku menuju kamar, dan tanpa ganti baju, ku rebahkan tubuhku di atas kasur yang setia menemaniku kala aku sedang capek dan ngantuk. "wah…capek banget, enaknya tubuh capek gini ku buat tidur aja", bisikku dalam hati.

Krieeeet…..! pintu kamar terbuka, ku dapati dardak sedang masuk kamar sambil membawa segelas minuman.
"Din, tidur aja kerjaannya, ni aku bawain es campur, seger banget, mau nggak???" ujar dardak sambil menyodorkan es tadi.
"Aduh… malas nich! Capek banget, pingin tidur, oia kamu dari mana aja kok baru nongol? dari warung?"
"Yups….aku habis jalan-jalan dari mloko desa sebelah, terus pulangnya mampir ke warung."
"eh tu jajan di meja dari mana?"
"oh….itu dari ibunya yuyun, emangnya kenapa???"
"nggak…..nggak papa kok".
"aduh…apa begitu yang namanya cinta? tahu kalau calon mertua yang nganterin, hayo ketahuan nich….".
"ketahuan apanya?" tanyaku menyela komentar dardak.
"ya ketahuan, kan kamu nggak biasanya nanya siapa yang ngirim, tapi giliran keluarganya itu…tu, kamu pasti nanya, kayaknya kamu mau mastiin ya? tul kan???"
"Ah…tu cuma kebetulan aja, emang selama di sini aku begitu? "aku balik tanya padanya.
"tanya aja ma faisol dan yang lain, malahan kita pernah buat taruhan, kalau pas keluarga yuyun yang ngasih sesuatu, kamu pasti nanya siapa yang ngirim, hehehehe…..".
"ih………..dasar, kurang kerjaan banget sich! emang aku ini tempat taruhan?" komentarku sambil memukulkan guling ke tubuh dardak.
* * *

Malam itu malam perpisahan, kami bertujuh mendirikan sebuah pentas pertunjukan. Dalam pentas ini kami menampilkan sebuah drama dengan mengangkat lakon kejahatan ayah tiri. Drama ini dimainkan oleh aku sendiri beserta teman-teman satu kelompok serta dibantu oleh anggota IPNU desa setempat, dalam drama ini kami memainkannya dengan sangat menjiwai sehingga membuat warga desa yang hadir menonton hanyut dalam alur drama kami.
"pak, bagus sekali ceritanya", kata pak kepala sekolah saat acara sudah selesai.
"memang bagus banget, sapu tangan ini saja sampai basah gara-gara untuk mengusap air mataku", imbuh bu Viena salah satu guru di sekolah yang kami tempati.
"makasih pak…makasih bu…kami nggak nyangka kalau penduduk sini benar-benar terhipnotis oleh drama yang kami sajikan, semua benar-benar di luar dugaan", komentar dardak merendah di hadapan guru-guru dan sesepuh desa.
Aku hanya bisa tersenyum lega setelah pementasan, tapi pikiranku masih melayang entah kemana. Sejenak kemudian………
”pak adin, tadi dramanya bagus banget". Mendadak ibu Rt muncul di hadapanku, di tengah kerumunan penduduk yang bergegas pulang dari halaman sekolah setelah pagelaran malam perpisahan selesai.
"makasih…makasih bu".
Aku menjawab dengan nada gugup.
"ibu…" panggil yuyun menghampiri ibunya. Gadis manis enam belas tahun, primadona desa pujaan setiap pemuda itu berdiri di belakang ibunya malu-malu.
"katanya mau pulang dengan adik, kok masih di sini?" tanya ibunya kemudian.
"yuyun nggak jadi pulang sama adik,bu. Katanya dia mau nginep di rumah Sifak, anaknya pak parjo", yuyun menjawab.
Yunita Rahmawati, gadis yang digosipkan denganku. Dialah yang selama ini mengganggu pikiranku, dan dia juga yang selama ini menghantuiku. Bukannya aku tidak mencintainya, tapi kalau aku membalas cintanya, maka akan timbul dua masalah. Pertama, para pemuda desa ini akan memusuhiku bahkan bisa memukuliku karena mereka mengira aku telah merampas pujaan mereka. Jika ini terjadi, maka akan muncul masalah yang kedua, yaitu masalah pondok. Sebab pasti aku dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik serta dianggap telah mencoreng nama pondok, walaupun ada sebagian pemuda desa yang akrab denganku dan memberitahu bahwa yuyun mencintaiku. Aku tetap memendam dalam-dalam perasaan itu, dalam keadaan bagaimanapun, aku harus menyembunyikan perasaan ini, perasaan yang sejak pertama kali aku mengenal dia, aku suka padanya.
"oia pak, mari mampir ke rumah! Pak adin belum makan kan? Itung-itung sebelum pulang besok. Anggap saja sebagai acara perpisahan khusus dari keluarga kami", ibu Rt mengajakku dengan nada memohon. Aku yang sedari tadi berdiri mematung merasa jadi nggak enak terhadap mereka. Namun di benakku timbul pertanyaan "apa benar apa yang dikatakan dardak kalau pak Rt dan ibu Rt juga suka padaku?" hal ini sebenarnya juga membebani pikiranku. Di satu sisi kesempatanku untuk dekat dengan yuyun makin terbuka lebar, tapi di sisi lain akan membuat penilaian pemuda-pemuda desa ini akan makin brutal.
"ehmm…saya…"
"aduh, masa pak adin nggak mau?" ibu Rt menyahut sebelum aku menjawabnya.

* * *


" monggo…!!!mari,silahkan masuk…!" pak Rt mempersilahkan masuk. Aku bermaksud mengajak kawan-kawan untuk ikut ke rumah pak Rt supaya tak ada anggapan bahwa aku saja yang di ajak ke sana, namun anehnya mereka kompak menolak, jadi terpaksa aku sendiri yang datang.
" silahkan makan! Kelihatannya pak adin ada program diet ya? Waktu ke sini pertama kan badannya agak gemuk, apa ndak kerasan tinggal di desa ini?"
" ah mboten…,tidak kok pak". Elakku sambil tersenyum.
Aku sungguh tidak bisa menikmati makanku, padahal sebelumnya sudah sering makan di sini.
Apakah gara-gara aku sendirian di sini tanpa kawan-kawan?
Atau gara-gara makan di depan yuyun?
Sepertinya pak Rt dan istrinya bersekongkol meninggalkan aku dan yuyun sendirian di ruang tamu, ku lihat dia hanya diam menundukkan kepala. Sekali-kali ku pergoki dia mencuri pandang padaku. Walau tanpa ada kata-kata yang terucap dari mulut kami, tapi aku sungguh menikmati kebersamaanku dengannya.
Tanpa ku sadari, sudah hampir dua jam aku dan dia di ruang tamu. Tapi aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun, begitu juga dengannya. Seolah-olah mulut kami membeku oleh dinding salju kutub-kutub cinta yang menyelimuti hati kami.
" lho…kok makanya sedikit banget? Makan yang banyak pak!" bu Rt datang dari dalam rumah lalu duduk di samping putri semata wayangnya, yuyun.
" sampun bu, saya sudah kenyang. Bener bu, sudah kenyang banget". Jawabku.
Sesaat kemudian aku permisi undur diri kepada bapak dan ibu Rt, serta putri mereka.
Sampai di rumah, dardak dan yang lainnya menyambutku dengan ucapan selamat, mereka mulai menghabisiku dengan kata-kata guyonan khas mereka, dan aku hanya bisa tersenyum mandengar gojlokan mereka.
Pagi harinya mobil jemputan pun datang, aku dan teman-teman membereskan barang-barang yang kami bawa dan memasukkanya kedalam mobil, tak lama kemudian kamipun beranjak meninggalkan desa yang penuh dengan kenangan-kenangan manis didalamnya, diikuti murid-murid yang kami ajar, bapak-bapak dan ibu-ibu penduduk setempat pun pada berdiri di depan rumahnya masing-masing seakan tidak rela kalau kami meninggalkan desa itu. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Manusia mana yang suka dengan “perpisahan”, dan akhirnya aku, teman-teman, murid-murid serta penduduk desa setempat tak kuasa membendung deraian air mata cinta, terakhir dengan lambaian tangan perpisahan kami curahkan rasa saying kami pada mereka. Tak terasa genap sudah setahun kami hidup bersama mereka. Ah…andai waktu bias terulang………………………..
Mungkin sudah takdir, mobil kami harus berhenti di depan rumah yuyun, sebab ada mobil lain yang hendak lewat dan terpaksa mobil kami mengalah terus menepi di depan rumah yuyun. Kulihat yuyun berdiri merangkul ibunya di depan rumah dengan tangisan yang pelan tapi dalam terasa, matanya yang merah membuatku sesak nafas. Hujan gerimis pun turun menyertai tangisannya, hatiku terasa sangat sakit dan tak terasa butiran-butiran bening mulai berjatuhan dari kedua mataku.
Dardak dan faisol yang duduk di sampingku hanya bisa menatapku dan memelukku, aku masih berharap agar mobil ini tetap berhenti di depan rumah yuyun membiarkanku menatapnya untuk yang terakhir kalinya sampai aku rela meninggalkannya.
Dengan bahasa air mata aku berkata “sebenarnya aku sangat menyayangimu”, dan dengan air matanya aku mengerti kalau sebenarnya dia berharap aku tidak meninggalkannya.
Selamat tinggal yuyun, selamat tinggal bidadariku, semoga kita bisa bertemu di kemudian hari dan semoga jodoh mempertemukan kita, “harapku dalam hati”……………….


* cerpen ini terinspirasi oleh keadaan teman baikku
**mahasiswa universitas al-azhar cairo
Cairo, april 30th,2008
02.00 am



Recipekisah sahabatkuMay 15, '08 5:53 PM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Quick and Easy
Servings:   cerpen

Description:
halo teman-teman semua,khususnya para pecinta baca...!
alhamdulillah cerpen kedua koe dah selesai tolong di baca ya?ya sekalian di komentari biar ada perubahan menjadi lebih baik...
key...!

Ingredients:
cerpen ini aku angkat dari kisah teman koe,ya walaupun kejadiannya sudah lama sih,tapi sengaja aku angkat agar bisa menjadi i'tibar bagi kita semua,amin...

Directions:
DIANA
By: cho-V

Selama hampir satu jam, aku di bimbangkan dengan dua pilihan. Tetap menunggu, atau bergegas. Tepat aku mau beranjak, aku melihat sesosok yang sedari tadi aku nantikan menuju ke arahku.
“ Siang Udin, sudah lama datang?” sapa Diana
“ Lumayan,” sahutku
Aku sengaja menjawab sapanya dengan singkat. Supaya ia merasa bersalah atas keterlambatannya. Namun, tindakku sia-sia. Ia sama sekali tak peduli.
“ Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya sambil menarik kursi tepat di depanku.
“ Syukurlah, kamu sendiri?” jawabku sambil balik bertanya.
Ia hanya memandangku. Di raut wajahnya, nampak dengan jelas, ia sedang menanggung beban yang amat berat. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak menjawab.
“ Apa aktifitas kamu sekarang?” tanyanya, “ pasti kuliah kan?” tebaknya dengan nada dingin.
“ Nggak lagi,” jawabku
“ Kenapa?!”
“Em…”
“Orang kaya, dengan mudah menghambur uang tanpa tujuan. Orang miskin, dengan sulit, bahkan teramat sulit mencari uang hanya demi sesuap nasi,” sergahnya tanpa memperdulikan kalimatku yang belum usai..
Aku tak tahu kalimat itu untuk siapa. Karena yang dituju adalah orang kaya. Sementara aku, nggak merasa tuh! Ya… walau orang tuaku bisa dibilang lumayan mampu, tapi itu orang tuaku, bukan aku.
“ Diana ….,” kataku pelan, “ kamu nggak apa-apa kan? Aku minta maaf kalau…”
“ Oh, nggak kok,” jawabnya seakan tersadar. “ Justru aku yang minta maaf,” lanjutnya seakan menyesali kalimat yang baru ia lontarkan.
“ Kamu punya masalah?”
“ Nggak juga,” jawabnya sambil memaksakan senyum.
Diana teman sebangku SLTA. Ia gadis yang cerdas dan simple. Namun tak tahu kenapa, mendadak ia putus sekolah ketika masih menduduki kelas dua. Mungkin, sekitar dua tahunan kami tak pernah berjumpa. Pertemuan kali ini, merupakan pertemuan kedua dari hari kemarin. Ia menegurku ketika aku hampir saja masuk ke toko buku. Ia nampak terburu-buru, sehingga ia putuskan untuk bertemu lagi saat ini. Di warung padang ini.
Diana memesan es jeruk dari tempat duduknya. Entah kenapa sejak tadi Diana terus mencermati pintu masuk.
“Oh ya, kamu kan sudah nggak kuliah lagi, apa aktifitas kamu di rumah?” tanyanya sambil sesekali mencermati pintu masuk.
“ Nggak ada aktifitas yang rutin sih, paling-paling buat cerpen, karena cuma itu hobby yang aku punya.”
“ Pernah di publikasikan?”
“ Iya, dan sudah banyak yang termuat. Honornya lumayan lho,” jawabku dengan penuh kebanggaan..
Ia nampak makin sedih setelah mendengar jawabanku. Aku sangat ceroboh. Tak seharusnya aku memamerkan kebanggaanku dalam situasi seperti ini.
Kami berdua saling bungkam. Aku membungkam karena merasa bersalah, sementara Diana seakan makin larut dalam kesedihan yang tak aku ketahui.
“ Temanku sudah datang!” suara Diana memecahkan kebekuan. Kini raut wajahnya nampak riang. Kesedihan di wajahnya kini tak terlihat lagi.
“Udin, aku duluan ya,” serunya.
Sebelum beranjak, ia mengeluarkan sebuah amplop dan secarik kartu nama. Lalu ia berikan kepadaku sambil berbisik, “ Sesekali masukkan kisah tentang aku dalam cerpen kamu ya.”
Lalu ia melesat pergi bersama teman cowok yang sedari tadi ia nanti-nantikan yang aku sendiri tak tahu siapa dia.
***
Pertemuan yang menegangkan. Diana tak seramah di masa SLTA. Aku berharap, isi amplop yang ia berikan tadi, dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Dear, Muhyiddin.
Udini, aku butuh bantuan kamu. Pendidikanku yang tak tuntas SLTA, menbuatku kesulitan meraih rizky. Aktifitas tarik becak bapakku, kini beliau sudah tak mampu lagi. Mungkin itu salah satu alasan, kenapa aku putus sekolah tiba-tiba.
Di saat semua seakan gelap, ada seorang teman yang menawarkan jasanya. Ia memperkenalakan aku dengan aktifitas yang menghasilkan uang. Kuikuti jejaknya. Sangking butuhnya aku dengan uang, hingga aku tak peduli walau aktifitas itu sebenarnya terlarang. Menjual sabu-sabu dan sejenisnya, itulah aktifitasku. Suatu saat kau akan bertemu dengan temanku itu, karena hanya dialah temanku saat ini.
Kau boleh maki aku Udini, tapi jangan benci aku. Karena aku butuh bantuan kamu. Jika kau masih menganggapku sahabat, bantu aku meninggalkan aktifitas terlarang ini. Lalu perkenalkan, dengan aktifitas yang menuju RidhoNya.
Your Friend.

Usai membaca surat, terjawab sudah semuanya. Bukan hanya perubahan Diana, tapi juga kenapa ia putus sekolah dengan tiba-tiba dan siapa cowok yang menjemput Diana di warung tadi.
***
Kini aku tak sabar lagi menyampaikan berita ini. Diana pasti senang mendengarnya. Aku sendiri masih tak percaya. Pamanku langsung setuju ketika aku meminta pamanku menerima Diana tuk bekerja di kios bunga milik Paman.
Aku merogoh dompetku. Mencari secarik kartu nama yang Diana berikan kemarin. Akhirnya aku temukan juga. Kulihat hanya berisi alamat rumah. Namun di baliknya tertera nomor telepon lengkap dengan keterangan. “Milik tetanggaku”, Diana pinter juga.
Kuputuskan menelpon dulu, untuk memastikan dia ada di rumah atau sedang keluar. Kupencet nomor telepon tersebut, beberapa detik kemudian terdengar nada sambung lalu di susul suara lawan bicara.
“Selamat pagi, dengan siapa?” terdengar suara ibu-ibu di seberang.
“Pagi. Maaf, benar Anda tetangga Diana?” jawabku balik bertanya. “Saya sahabatnya,” lanjutku.
“Kamu menelpon di waktu yang tepat Nak,” serunya.
“Maksud anda?”
Ibu di seberang terdiam. Lalu terdengar isak tangis.
“Cepetan ke sini Nak, sebentar lagi mayatnya akan dikubur,” ibu itu menjelaskan sambil masih terisak.
Tiba-tiba saja jantungku berdetak sangat kencang. Tangankupun tiba-tiba berkeringat. Kini aku hanya bisa tercengang. Sama sekali tidak bisa mengucap sepatah kata pun. Air mataku bercucuran, membanjiri kedua pelupuk mataku.
Tanpa salam penutup, aku langsung mematikan telepon, lalu mengeluarkan motorku. Aku berusaha memasukkan kunci kontak, tapi tanganku terlalu gemetar. “ Ayo dong, ayo,” gumamku, “aku tidak mau ketinggalan pemakaman sahabatku.” Ku gunakan sebelah tanganku tuk masukkan kunci kontak. Kini motorku mau menyala lalu siap melaju.
Memikirkan Diana, membuat otakku beku. Kini aku harus berbelok ke kiri. Walau aku tidak pernah ke rumah Diana, tapi aku sering lewat karena rumah Diana searah dengan jalur tempat wisata Goa Akbar. Aku hanya butuh nomor rumah Diana. Jalan menuju ke rumahnya sudah tak asing lagi. Sehingga gerakan nyetirkupun, seakan sudah otomatis.
Oke, tenang, pikirku. Rumah Diana sudah hampir sampai. Beberapa detik kemudian, aku melihat bendera warna hijau. Tanda ada yang sudah meninggal. Aku langsung memarkir motorku secara pararel di depan rumah Diana. Aku langsung masuk rumah yang sudah di banjiri puluhan orang berwajah duka.
Aku berjalan melewati puluhan orang tersebut. Sesosok mayat yang sudah terbungkus kain kafan, terbujur dalam peti mati yang masih terbuka.
Air mata menggenangi pelupuk mataku. Sekujur tubuhku terasa lumpuh. Pandanganku kini mulai kabur. Suara orang-orang di sekitar terdengar sayup-sayup. Jauh sekali.
***
Sungguh sulit dipercaya. Yulia yang baru kemarin berbincang denganku, kini ia telah berselimut bumi. Informasi yang ada menjelaskan, Diana menelan sendiri barang yang dimilikinya ketika Polisi datang ke rumahnya. SELAMAT JALAN DIANA, semoga engkau di terima di sisihNya. Maafkan aku, karena aku tak mampu menolongmu. Mungkin aku hanya bisa menceritakan kisahmu dalam cerpenku karena kemarin engkau sempat memintanya.
THE END

Cairo,16 mei 2008
At 00.38 pm




RecipecerpenApr 26, '08 12:47 AM
for everyone
Category:   Other
Style:   Other
Special Consideration:   Vegetarian
Servings:   cerpen

Description:
Dalam MP ini aku mencoba mencoret-coret sebisaku,kalau terdapat banyak kekurangan,saya tunggu saran dan kritiknya

Ingredients:
cerpen ini aku persembahkan untuk umat islam dimanapun berada.selamat menikmati....

Directions:
Cerpen ilmiah
GARA-GARA JILBAB*
By:cho-V**

SIANG itu udara sangat panas. Begitu panasnya hingga bibir Erlin terasa mangering. Setelah mengikuti prof.Albert, Erlin melangkahkan kakinya menuju perpustakaan,mencari beberapa literature untuk tugas eksperimen mandirinya. Tapi karena cuaca begitu panas,Erlin memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di taman fakultas. Membiarkan angin menerbangkan kerudung dan jilbabnya hingga ia bisa merasakan sejuknya angin sampai kedalam jilbabnya.
Erlin merasakan perutnya begitu lapar.ia baru ingat,kalau sejak pagi ia belum makan.lalu dikeluarkannya sebungkus roti yang dibelinya tadi pagi.namun ada yang ganjil,Erlin merasa ada seseorang yang memperhatikannya dan iapun tersenyum ketika tau ada seorang anak kecil bule yang duduk disampingnya sedang memperhatikannya. Erlin tersenyum manis padanya.
"kau mau?" katanya sambil menyodorkan roti coklat ditangannya.gadis kecil itu menggeleng.
"benar kau tak mau? Ambil saja,aku masih ada yang lain kok",lanjutnya,tapi gadis kecil itu tetap menggeleng.
"okey,kalau gitu aku makan sendiri",katanya kemudian,lalu memakan roti coklatnya dengan lahap. Gadis kecil itu masih saja memperhatikan Erlin dari samping,lalu tak lama kemudian mendekatinya dan menarik kerudung Erlin perlahan. Erlin menoleh dan tersenyum.
"kenapa bajumu aneh?" Tanya gadis itu sambil menatap aneh pada Erlin.
"ini tidak aneh. Tuhanku memerintahkanku untuk memakainya", jawab Erlin sambil mendekatkan wajahnya kegadis kecil itu.
"Tuhanmu menyuruh pakai baju aneh begitu?" tanyanya lagi.
"yuups…!" jawab Erlin singkat.
"siapa Tuhanmu?" gadis itu mulai mencondongkan badannya ke Erlin.
"Allah" jawab Erlin sambil mengunyah rotinya.
"apa Tuhanku dan Tuahanmu berbeda?" pertanyaan kali ini diucapkan beberapa menit setelah gadis itu terdiam.
"tidak",Erlin menyukai gadis kecil ini,karena itu setiap pertanyaannya dijawab dengan senyum.
"lalu kenapa Tuhanku tidak menyuruh mamaku untuk memakai baju sepertimu?"
Erlin tersentak. Gadis yang cerdas,pikirnya.
"mamamu…hanya tidak tau",jawabnya hati-hati. Namun beberapa saat kemudian,seorang perempuan berambut cokelat menghampiri gadis itu.
"maaf,kalau putri saya merepotkan anda",kata perempuan yang ternyata adalah mama gadis itu.
"oh…tidak kok,dia gadis yang lucu",jawab Erlin.
Lalu ibu dan anak itu berpamitan untuk pergi. Namun siapa yang akan menyangka,percakapannya dengan gadis kecil cerdas itu ternyata membuat masalah baru bagi Erlin. Dua minggu kemudian tiga orang polisi datang kerumah kos Erlin dengan surat penangkapan. Ternyata si bule melaporkan Erlin ke kantor polisi dengan tuduhan menyebarkan ide-ide teroris kepada anaknya. Dan sekarang Erlin tinggal menunggu kabar tentang nasibnya dalam jeruji tua.
* * *

Malam kian meninggi, rumah itu kini mulai sepi. Di dapur seorang wanita sedang membereskan beberapa perabotan yang sudah kotor. Sementara di ruang kelurga, seorang pria sedang duduk sambil membaca buku tebal yang hampir satu jam tadi ditekununya. Di ruang lain, seorang gadis kecil menyiapkan dirinya untuk beristirahat,meraih selimut tebalnya dan mengambil boneka Winnie the pooh yang ada di atas tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian,wanita yang ada di dapur tadi masuk ke kamar gadis kecil. Duduk di sampingnya dan mengambil beberapa buku cerita yang tersimpan rapi di laci.
"kau mau mom lanjutkan cerita gadis berkerudung merah kita yang terputus kemarin,saying?" tanyanya sambil membenarkan letak bantal gadis kecil itu.
"siapa Tuhan kita mom?" Tanya gadis kecil itu,seolah tak mendengar pertanyaan mamanya.
Sang ibu sedikit terkejut dengan pertanyaan tak biasa yang dilontarkan putri kecilnya itu."Yesus adalah Tuhan kita sayang",jawabnya sabar.
"apa Tuhan Yesus menyuruh kita untuk memakai baju seperti wanita di taman tadi siang?" tanyanya kemudian.
Lagi-lagi ibu gadis itu terkejut,kembali membuka halaman-halaman buku cerita seolah-olah tak mendengar pertanyaan anaknya, "baik saying,mom lanjutkan cerita kita ya?"katanya kemudian.
"kata wanita itu,Tuhan kita dan Tuhan dia sama. dia bilang,Tuhannya menyuruhnya untuk memakai baju aneh seperti yang dia pakai,lalu…kenapa mom tidak memakai baju aneh seperti wanita itu?"
Sang ibu mulai kelihatan jengkel,kemudian menutup halaman buku cerita dan memandang putri kecilnya dengan serius. "sayang…,sekarang sudah malam.bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan kita tentang hal ini esok pagi saja,okey..??!!"katanya kemudian,lalu dikecupnya kening gadis itu sambil mengucapkan selamat malam dan mematikan lampu kamar.
Pagi hari yang cerah,aktifitas sudah dimulai sejak sejam sebelum gadis kecil itu bangun. Gadis itu keluar dari selimutnya,turun dari tempat tidur,dan berlari menuju ruang makan dengan baju tidur yang masih melekat dibadannya.
"pagi sayang…bagaimana tidurmu semalam?"ujar dad sambil membelai rambut piramnya dan mengecup keningnya, gadis itu cuma tersenyum manis.
"mom…mom janji pada Alice akan menjawab pertanyaan semalam,kan?"katanya mengingatkan. Mamanya kelihatan cuek karena tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya yang bernama Alice itu.
"mom……………",lanjutnya sambil merengek
"ayolah Alice,hentikan itu. Yang bisa mom jelaskan padamu ialah bahwa Tuhan kita adalah Yesus,dan Tuhan Yesus tak pernah menyuruh kita untuk memakai baju konyol seperti gadis di taman itu",jawabnya datar.
"wanita itu terlihat cantik mom,bajunya memang aneh tapi tidak konyol",Alice berkomentar sambil menyuapkan sereal kemulutnya.
"Alice…!!!sudah gak usah diterusin,gak ada pertanyaan lanjutan,key…!?!" kali ini sang mama benar-benar kesal.
"ada apa sayang?" Tanya pria itu akhirnya.
"tak ada,hanya pertanyaan konyol",jawab istri singkat.
"pertanyaan konyol? tentang Tuhan? anak kecil bertanya tentang Tuhan kau bilang pertanyaan konyol?"tanyanya sambil melipat Koran.
"ada apa sich dengan Alice,sayang?" lanjutnya.
Sang istri kemudian menjelaskan tentang pertemuan Alice dengan Erlin kemarin di taman fakultas,dan sampai akhirnya Alice mulai menanyakan tentang hal-hal yang konyol.
"gadis itu sudah meracuni pikiran Alice",lanjut sang istri.
Mendengar penjelasan sang istri,si suami cuma manggut-manggut dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
Gara-gara pertanyaan gadis kecil itu selalu menghantui mamanya,hingga akhirnya sang mama melaporkan hal ini ke polisi dengan tuduhan menyebarkan ide-ide suatu agama kepada orang yang sudah beragama. Alice tak pernah tau kalau pertanyaannya mengakibatkan si gadis berpakaian timur tengah itu berada dalam jeruji besi. Yang ia tahu,si mama tak bisa memberi jawaban atas pertanyaannya tersebut.
* * *

"Masalah stigma lagi,,,teroris? Bagaimana bule itu bisa menyebut Erlin teroris hanya karena bercakap-cakap dengan putrinya? Hhh….kata teroris memang benar-benar telah mengalami pergeseran makna,Nadia",komentar Albert setelah mendengar cerita Nadia (teman dekatnya) tentang peristiwa yang terjadi pada Erlin.
"Anehnya, permainan stigma macam ini sejak dulu selalu diperlakukan terhadap orang-orang penganut islam. Mereka yang berusaha melaksanakan ajaran agamanya dengan serius dan menyeluruh,di cap sebagai fundamentalis,fanatis,dan banyak lagi",lanjut Albert.
"Sejak dulu?" tanya Nadia ingin tahu.
"Orang yahudi memandang islam sebagai gentile,yang secara etimologis berarti orang asing, namun oleh mereka lebih sering dimaknai dengan orang tak beradap.
Demikian juga dalam perang salib,orang-orang Kristen menyebut tentara islam dengan sebutan Saracen,yang mempunyai makna sama dengan gentile. Disamping itu banyak karya terkenal sarjana eropa abad pertengahan yang disusun untuk mendiskreditkan islam,misalnya summa contra gentiles karya st.thomas Aquinas –yang sedihnya lagi karya ini sering digunakan sebagai bahan rujukan oleh sarjana-sarjana islam kontemporer-. Dalam buku ini,Aquinas menyebut Muhammad sebagai penghianat para sahabatnya dan disebut sebagai orang-orang dengan sifat kebinatangan yang tinggal di gurun pasir.
Karya lain yang paling keras yaitu disputation against the sacaren and the quran yang ditulis oleh Ricardo de monte croce yang lebih dikenal dengan judul improbatio alchorani".jelas Albert panjang lebar.
"Tahukah kamu,Nadia?stigma yang diberikan barat pada islam adalah stigma islam sebagai agama yang disebarkan dengan pertumpahan darah.walaupun kenyataannya,sejarah menulis bahwa perang salib justru dimulai oleh pidato paus urbanus II di Clermont (1095) yang membakar imajinasi orang Kristen tentang gagasan "perang suci" untuk mensterilkan dunia dari orang-orang gentiles",tambah Albert dalam penjelasannya.
Nadia terdiam,berusaha mencari celah-celah dari penjelasan Albert, "kau mengatakan ini bukan karena kau benci dengan kapitalis kan,Albert?" tanya Nadia pada akhirnya.
Albert tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak." Aku memang benci kapitalis,sangat benci, namun aku mengatakan semua ini karena itulah faktanya,aku cukup obyektif sebagai pengamat,ya….walaupun kadang-kadang terlihat emosi. Terlepas dari itu semua,apa yang ku katakana padamu semuanya benar",jelas Albert pada Nadia. "dan sekarang sebagai buktinya,temanmu Erlin menjadi korban dari permainan stigma ini".imbuh Albert sembari menghela nafas.
"Aku akan membantu kalian, kita akan selesaikan kasus ini sama-sama, aku janji Erlin pasti akan bebas dari penjara".kata Albert kemudian.
* * *


Ruang sidang tak begitu ramai,hanya beberapa orang yang menghadiri persidangan akhir Erlin.
Erlin dapat melihat Nadia duduk di bangku terdepan,tak ketinggalan teman-teman kuliyahnya juga menghadiri persidangan tersebut.
"Bersyukurlah karena kasus ini tidak sampai dibawa ke pusat",kata Albert suatu ketika pada Erlin. "pengadilan pun mengira bahwa ini semua hanyalah kesalah pahaman. Namun jika kasus ini ditolak,orang asing itu bisa melaporkannya ke kedutaan dan permasalahannya akan makin runyam. Karena itu pihak pengadilan memutuskan untuk menyelesaikan kasus ini di tingkat daerah". Imbuh Albert,dan akhirnya persidangan pun dimulai.
Sidang pertama tak memberikan keyakinan bahwa Erlin benar-benar bersalah. Kesaksian ayah dan ibu gadis kecil itu tak memberikan bukti untuk membuat tuntutan mereka dikabulkan.sampai akhirnya Albert –sebagai pembela Erlin- mengajukan untuk meminta Alice dihadirkan untuk menjadi saksi. Awalnya pihak penuntut keberatan melihat Alice masih di bawah umur,namun tak ada yang bisa mengalahkan argument pengacara muda itu. Ruang sidang pun menjadi riuh bak sebuah pasar kota,dan setelah beberapa menit meminta waktu,akhirnya hakim memutuskan untuk mengijinkan agar Alice menjadi saksi pada siding berikutnya.
Gadis kecil berambut coklat itu duduk di tengah-tengah ruang siding didampingi oleh ayahnya sebagai saksi. Keberadaan sang ayah setidaknya membuat gadis kecil itu marasa nyaman dan mau mengatakan yang sejujurnya tanpa rasa takut terhadap apapun.dan seketika Albert langsung memulai melakukan perannya sebagai seorang pembela.
"Gadis cantik",sapa Albert mulai berkomunikasi dengan Alice. "apa kau mengenal kakak itu?" tanya Albert sambil menunjuk pada Erlin.
Gadis kecil itu mengamati wajah Erlin,dan kemudian mengangguk dengan pelan.
"Dimana kau pernah bertemu?" tanya Albert lagi.
"Di taman,saat menunggu mom". katanya pelan.
"Kau tahu namanya?"
Gadis itu menggeleng.
"okey,apa kau pernah bicara dengannya?"
Gadis itu mengangguk.
"ceritakan pada kami apa yang kalian bicarakan!" kata Albert kemudian.
Gadis itu menggenggam jari dady yang memangkunya dan memandang mom yang duduk di belakang.
"ayo sayang,tak apa,kau hanya bercerita tentang mimpimu kepada mom dan dady seperti biasa yang kau lakukan setiap hari saat sarapan",kata ayahnya menerangkan.
Tak lama lagi gadis itu mulai bersuara."dia makan roti,lalu menawariku karena aku melihatnya terus".
"kenapa kau melihatnya terus?" Tanya Albert sebelum gadis itu melanjutkan ceritanya.
"Karena bajunya aneh",katanya sambil tersenyum pada Erlin. Beberapa orang yang hadir pun ikut tersenyum,kemudian Albert memintanya untuk kembali bercerita. Alice menceritakan kejadian sebenarnya dengan lancar,cerita yang tak berbeda dengan apa yang diceritakan Erlin pada Nadia dan Albert. Dan Albert tersenyum.
"Apa wanita itu berbicara yang lain padamu?" tanya Albert setelah Alice selesai bercerita.
Alice menggeleng.
"Saya brasa tak ada pertanyaan lain dari saya,hakim yang mulia",kata Albert sambil tersenyum puas. Hakim yang baru saja mendengar pengakuan Alice hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Setelah jeda beberapa menit,sidang kembali dilanjutkan. Betapa memuaskannya saat hakim memutuskan bahwa Erlin benar-benar tidak bersalah dan benar-benar bebas dari tuduhan yang sudah dilontarkan pihak penuntut. Erlin diputuskan bebas tanpa syarat,Albert tersenyum bangga,Nadia dan teman-teman yamng lain berpelukan bahagia sambil bersorak-sorak mengumandangkan takbir. Erlin hanya bisa meneteskan air mata kebahagiaan sambil berkali-kali mengucapkan hamdallah. Ruang sidangpun riuh penuh dengan suasana bahagia, sementara itu,Alice gadis kecil manis yang tak tau apa-apa itu hanya bisa diam dan tersenyum saat melihat semua orang tersenyum bahagia.
* * *


*cerita ini terinspirasi dari keadaan umat islam di barat.
**mahasiswa AL-AZHAR fakultas ushuluddin tingkat satu.
Cairo, march 10th,2008 (02.15 pm) wik


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help