Mungkin di antara pembaca masih ada yang ingat dengan iklan sebuah minuman Vitamin C yang dibintangi oleh Joshua dengan jargonnya yang terkenal Jeruk Kok Minum Jeruk.Jargon tersebut jenaka, mengena untuk menyampaikan bahwa minuman yang sedang diminum Joshua sama persis dengan memakan buah jeruk aslinya, baik dari kandungan vitamin dan kesegarannya.Cerita bermula ketika Joshua yang sedang minum ‘minuman vitamin C’ tiba-tiba datang jeruk yang dimanusiakan, artinya jeruk tersebut telah dikreasikan mempunyai sifat seperti manusia, ingin minum seperti Joshua.“Minta dong, !!!” kata jeruk kepada Joshua untuk meminta minuman Joshua.“Jeruk kok minum jeruk ??” jawab Joshua secara retoris untuk menunjukkan ketidakpercayaannya ‘mana mungkin jeruk mempunyai keinginan untuk minum jeruk’.Jargon ‘Jeruk minum jeruk’ ini sekarang telah diplesetkan oleh pelawak-pelawak untuk menggambarkan hubungan sejenis antara waria dengan waria, dimana, kalau pada iklan Joshua, jargon tersebut memanusiakan jeruk, tetapi pada kasus waria, jargon tersebut untuk menggambarkan mewanitakan laki-laki, yang akhirnya menimbulkan pertanyaan ketidakpercayaan ‘masa laki-laki berhubungan dengan laki-laki’.Memanusiakan jeruk atau mewanitakan laki-laki, adalah menempatkan subyek tidak pada predikatnya atau fungsinya, implikasinya adalah kelucuan, keanehan, ketidakwajaran, kerancuan dan kemustahilan.Allah SWT berfirman dalam QS. 5:72 "..kafirlah orang yang mengatakan : Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam" Memberikan predikat Tuhan kepada nabi Isa as, disamping akan menjadikan kekafiran juga akan menimbulkan implikasi yaitu kerancuan, keanehan, ketidakwajaran dan kemustahilan keyakinan. Kita akan mengetahui jargon jeruk minum jeruk ternyata sangat tepat diterapkan kepada kesalahan memberikan predikat Tuhan kepada nabi Isa as. Mari kita kaji implikasinya. SEKILAS TENTANG KETUHANAN YESUS Menurut dogma dalam agama Kristen, Tuhan yang ada di langit berfirman, kemudian firman itu menjelma menjadi seorang manusia yang bernama Yesus :
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Injil Yohanes 1-1
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Injil Yohanes : 1:14
Menurut ayat tersebut, Tuhan yang ada di langit berfirman, dan firman itu adalah Tuhan, kemudian firman itu menjelma menjadi manusia, jadi ketika Tuhan telah menjelma menjadi manusia, maka tidak ada lagi Tuhan yang lain selain Yesus atau dengan kata lain tidak ada lagi Tuhan yang ada di langit, karena Tuhan telah tinggal di Bumi dengan rupa Yesus.
Bila ada yang meyakini bahwa masih ada Tuhan yang di langit sementara dalam waktu yang bersamaan meyakini Yesus sebagai Tuhan yang ada di Bumi, berarti keyakinan tersebut sama dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak Esa atau le-bih dari satu.
Memang beragam pemahaman umat Kristen tentang dogma Trinitas tersebut, hal ini tidak bisa dihindari karena ketuhanan Yesus adalah dogma yang dipaksakan. Dalam diskusi saya dengan orang-orang Kristen, dikatakan bahwa bila saya tidak paham dan tidak bisa menerima teologi Trinitas, semata-mata karena saya tidak mendapat bimbingan Roh Kudus.
Padahal, banyak sekali umat Kristen yang bingung dengan teologi Trinitas, apakah mereka juga tidak mendapat bimbingan Roh Kudus ?? Sekarang mari kita uji seilmiah mungkin, tentang teologi ketuhanan Yesus yang menyatakan bahwa Tuhan telah menjelma menjadi Yesus, tentu saja tidak ada lagi Tuhan selain Yesus, karena ayatnya menyatakan menjelma bukan membelah diri.
TUHAN BERSYUKUR KEPADA TUHAN Suatu ketika Yesus melihat seorang wanita menangis karena saudaranya laki-laki telah meninggal dunia, wanita tersebut memohon kepada Yesus agar menghidupkan kembali saudaranya. Maka masygullah hati Yesus untuk menolong wanita tersebut, Yesuspun berhasil menghidupkan kembali saudara laki-laki wanita tersebut lalu Yesuspun bersyukur kepada Tuhan :
Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Yohanes 11:41
Dalam ayat tersebut sangat nyata disebutkan, Yesus bersyukur kepada Tuhan Bapa, padahal Yesus sendiri diyakini sebagai Tuhan, adalah aneh dan rancu, Tuhan bersyukur?, artinya Tuhan bersyu-kur kepada Tuhan. Banyak sekali pertanyaan yang timbul, salah satunya kepada Tuhan yang mana Yesus bersyukur, bukankah Tuhan telah menjelma menjadi diri Yesus? Apakah Yesus bersyukur kepada dirinya sendiri, tentu saja tidak, karena sikap tersebut merupakan sikap yang tidak masuk akal, seperti pertanyaan retorika Yoshua :
‘Jeruk kok minum Jeruk’.
Sikap Yesus menengadah ke atas bukanlah sikap kosong, artinya memang ada yang dituju yaitu Tuhan yang ada di langit, kalau meyakini Yesus sebagai Tuhan, tidak bisa tidak, harus meyakini Tuhan itu tidak Esa alias lebih dari satu. Yaitu Tuhan yang menerima rasa Syukur Yesus dan Tuhan yang satunya lagi yaitu Yesus sendiri. Pemahaman ini bertentangan dengan ayat :
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah Firman itu telah menjadi manusia Ibid no.3
Ayat yang bergaris bawah menunjukkan bahwa Tuhan telah berubah menjadi Yesus , ayat sama sekali tidak menunjukkan Tuhan memperbanyak diri menjadi dua seperti sel yang membelah diri untuk berkembang biak. Tentu saja tetap harus dijawab, Yesus berdo’a kepada Tuhan yang mana kalau Yesus masih diyakini sebagai Tuhan ?
TUHAN BERDOA KEPADA TUHAN Di dalam Alkitab banyak ayat yang mengisahkan Yesus berdo’a kepada Tuhan :
Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Lukas 22:43-44
Dalam ayat tersebut, Yesus berdo’a kepada Tuhan, sangat nyata ada obyek yang dimintai Yesus yaitu Tuhan, dan nyata pula Yesus sangat bergantung kepada Tuhan, Tuhan yang mana lagi ?? Bukankah telah disebutkan dalam yohanes 1:1 dan Yohanes 1:14 Tuhan telah menjelma menjadi Yesus, mungkinkah Yesus berdo’a kepada dirinya sendiri, jelas mustahil yang sama mustahilnya dengan ungkapan :
‘Jeruk minum Jeruk’
Kecuali bila diyakini ada Tuhan selain Yesus, artinya sebelum Tuhan menjelma menjadi Yesus memang telah ada Tuhan yang lainnya. Berikut ini argumentasi teologi tersebut :
Fase 1: Tuhan A dan Tuhan B Fase 2: Tuhan A menjelma menjadi Yesus Fase 3: Tuhan Yesus dan Tuhan B
Berdasarkan teologi ini, bila Yesus dikatakan berdo’a ataupun bersyukur itu berarti Tuhan yang dituju Yesus adalah Tuhan B, tetapi teologi ini juga sangat batil, karena bertentangan dengan ayat-ayat berikut ini :
Bahwa TUHANlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Ulangan 4:35
Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhan-lah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Ulangan 4:35
"Kamu inilah saksi-saksiKu," demikianlah firman Tuhan, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Yesaya 43:10-11
Lalu apa maksud Yesus berdo’a memohon kepada Tuhan? Bila dijawab Tuhan berdo’a kepada Tuhan yang lain pasti salah, bila dijawab Yesus berdo’a kepada dirinya sendiri juga salah. Jawaban macam apapun akan berbenturan dengan Alkitab dan rasionalitas manusia, selama tetap menuhankan Yesus.
TUHAN DIPERINTAH TUHANAda sebuah ayat yang berbunyi : Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Yohanes 17:13Dalam ayat tersebut Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa untuk mencapai hidup yang kekal (bahagia) mereka harus mengenal Tuhan secara benar dan mengenal Yesus sebagai utusan Tuhan .Ayat tersebut sangat selaras ketika meyakini bahwa Yesus hanyalah seorang manusia utusan Allah SWT, bukan jelmaan Allah SWT. Yesus sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah jelmaan Allah SWT dan Yesus juga tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Tidak ada satu ayatpun yang menyatakan Yesus mengaku sebagai Tuhan.Ayat tersebut di atas akan berantakan maknanya, bila memaksakan keyakinan Yesus sebagai Tuhan, salah satu kejanggalannya adalah kalimat terakhir yang menyatakan : ‘dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau Utus,’. Lalu Tuhan yang mana lagi Tuhan yang mengutus Tuhan Yesus?Bukankah teologi yang menyatakan Yesus sebagai jelmaan Tuhan berarti harus meyakini bahwa tiada Tuhan lagi selain Tuhan Yesus. Kalau demikian adanya mau tidak mau keyakinan ini harus membunuh akal sehat kemudian harus menerima saja ketika dikatakan Tuhan diperintah Tuhan.Dan masih banyak ayat-ayat dalam Alkitab yang mengisahkan hubungan Yesus dengan Tuhan adalah hubungan antara seorang utusan dengan Tuhan-Nya yang mengutus. Sehingga kalau kita yakini Yesus sebagai Tuhan akan menimbulkan pertanyaan ‘Kok Jeruk Minum Jeruk’.Semoga uraian kali ini, dapat memperkuat akidah keimanan kita. Amin.
agus syafii Hampir dapat dipastikan bahwa semua dari kita pasti memiliki keinginan untuk berhasil dan sukses. Sukses dalam meraih prestasi di dunia pendidikan, pergaulan, pekerjaan, bisnis, dan keluarga. Meraih sukses memang tidak mudah, tapi semua orang punya kesempatan untuk meraih sukses asalkan mereka mampu membuang sifat putus asa yang terdapat dalam diri mereka sendiri.
Kita sebagai manusia ketika menjalani hidup pasti tidak lepas dari dihadapkan pada persoalan-persoalan -persoalan yang sulit. Bahkan ada beberapa diantara persoalan tersebut yang membuat kita hampir putus asa. orang yang pesimis dan putus asa adalah orang yang saat saat ditimpa kemalangan ia tidak mampu lagi berpikir positif tentang diri dan dunia di sekitarnya. Putus asa akan menghampiri kita saat kita menempuh perjalanan yang panjang atau mendapatkan kegagalan dari perjalanan-perjalan yang kita tempuh
kita dalam hidup seharusnya mencoba bersikap untuk lebih pantang menyerah dalam menghadapi masa-masa sulit atau saat kita gagal. Salah hal yang dapat kita tempuh adalah menanamkan dalam pikiran kita bahwa masa-masa sulit atau kegagalan yang mesti kita hadapi dalam kehidupan ini tidak akan berlangsung selamanya, melainkan hanya sementara saja. Dengan demikian, kita akan dapat melihat sisi terang dari kehidupan ini, dan akan bisa bangkit dan terus meneruskan hidup dengan baik.
Gagal lagi, lagi, dan gagal. Hal seperti ini pun akan memungkinkan kita putus asa. Anda telah mencoba, Anda telah bersabar, dan Anda telah berusaha, namun kegagalan dan kegagalan yang menemui Anda. Keadaan seperti ini bisa diibaratkan seperti sesorang yang sedang mencari suatu tempat tetapi tidak mengetahui harus lewat mana. Tetap tak ada alasan bagi kita untuk berputus-asa. Belum berhasil merubah bongkahan es potensi itu, agar ia menjelma jadi gelombang dahsyat yang mengarusi peradaban lain. Namun ingat, kita belum kalah dan tak boleh kalah. Tak pernah pula kita kenal yang namanya putus-asa karena pernah gagal. Bagi kita kegagalan hanyalah semacam pemantik untuk meledakkan seluruh potensi baru yang terpendam dalam diri kita.
Pernah dengar pepatah arab "lau laa al-masyaqqoh, la saada an-naasu kulluhu". Seandainya tidak ada kesulitan, maka seluruh manusia tentunya akan menjadi mulia. Sebuah pepatah yang menjelaskan bahwa derajat seorang manusia akan ditentukan sejauh mana mereka mampu mengambil kearifan-kearifan baru setelah melewati berbagai rintangan dan kegagalan. Kearifan yang tercipta ketika manusia tampil sebagai wujud paling anggun dari peserta kehidupan yang sadar.
Banyak dari kita yang kehidupannya tidak berubah karena mereka tidak mau belajar untuk memperbaiki diri dari kegagalan kegalan yang kita dapatkan, dan kita lebih sering untuk memilih putus asa. hidup adalah sebuah perjuangan kawan, jangan mudah lelah dan berputus asa, kegagalan adalah suatu kewajaran, bila lelah jangan kita memutuskan untuk berhenti, tetapi beristirahat sejenak untuk segera bangkit. Yakinlah diri anda mampu untuk berhasil. Jangan pernah sekalipun anda berputus asa, karena ketika manusia sudah berputus asa, maka sudah matilah sebagian dirinya. ayo sahabat, kalau anda butuh tangan untuk pertolongan saya siap untuk membantu dengan kemampuan yang saya miliki, mari kita berjuang bersama untuk sukses diri kita. (cho-V)
Ada satu perkataan yang harus kita renungkan atau dijadikan bahan muhasabah untuk diri kita. Apakah kita sudah merasa seperti apa yang dikatakan oleh Ka’ab Al-Ahbar yang saya kutip dari bukunya Abu Dzar Al-Qalamuni yang berjudul “Berlari Menuju Allah” yang mana beliau (Ka’ab Al-Ahbar) berkata sebagaimana berikut ini, “Umat ini (Islam) telah diberi tiga kelebihan dibanding umat-umat sebelumnya selain seorang nabi yaitu:
1.....Apabila Allah mengirim seorang Nabi, dia berkata kepadanya, ‘Kamu menjadi saksi atas umatmu’, sementara umat Islam dijadikan saksi atas seluruh umat manusia. Firman-Nya: “Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (QS. Al-Baqarah (2): 143)
2.....Kepada Nabi itu akan dikatakan, ‘Tak ada hal yang susah dalam agamamu’ sementara untuk umat Islam, Allah berfirman, “Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan” (QS. al-Hajj (22): 78).
3.....Kepadanya dikatakan, ‘Berdoalah kepada-Ku pasti Kukabulkan,’ sementara untuk umat Islam, Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku pasti akan Kuperkenankan bagimu” (QS. al-Mu’min (40): 60).
Maka hisablah diri kita, apakah amanah yang Allah berikan kepada kita sebagai bagian dari khairu ummah dapat kita pelihara dengan baik?
Umar ra. memberi nasehat “Hasibuu anfusakum, qabla an tuhasabuu.”
Tujuannya agar kita selalu menghisab diri kita adalah agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi, sehingga amanah sebagai bagian dari khairu ummah benar-benar dapat dipelihara dengan baik dan dapat dibanggakan.
Imam Hasan Al-Basri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban dihari kiamat akan ringan bagi orang yang telah menghisab amalnya didunia, begitu pula sebaliknya penghisaban dihari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalnya didunia.”(cho-V)
Agus Syafii Apakah pada saat ini Anda bisa merasakan damai dihati ? Boro-boro bisa damai; mikirin harga sembako maupun BBM yang naik terus aja udah bikin orang bingung tujuh keliling. Begitu juga dengan tagihan-tagihan lainnya yang sudah berbulan-bulan belum dibayar. Ditambah pula dengan adanya cem-macem stress di tempat pekerjaan, hal ini semuanya membuat kita tidak mungkin akan bisa merasakan damai di hati. Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa banyak orang yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dapat merasakan damai dihatinya, karena adanya rasa dendam maupun luka batin. Hati kita tidak akan bisa merasakan damai apabila selalui dihantui oleh rasa takut, dendam,cemburu,marah, sedih, susah, bahkan rasa kangen berat terhadap seseorang.
Yang membuat hati kita tidak dapat damai pada umumnya karena adanya kejadian-kejadian di masa lampau yang membuat kita jadi luka batin ataupun untuk kejadian dimasa yang akan datang, karena adanya rasa takut maupun kekhawatiran untuk menghadapi hari esok.
Pemeran Utama ataupun Penderita Utama dari adanya ketidak damaian ini adalah "Sang Aku". Kita bisa merasakan damai di hati,apabila kita bisa mendapatkan ketenangan. Hal ini hanya bisa timbul pada saat kita melupakan Sang Aku; misalnya pada saat kita tidur ataupun pada saat kita nonton TV yang menyenangkan bahkan pada saat kita sedang teler/mabok. Oleh sebab itulah banyak orang yang berusaha untuk membius dirinya sendiri agar bisa melupakan Sang Aku.Sang Aku ini bisa di definisikan sebagai Ego dalam bahasa Latin atau dalam bahasa Jerman "Das Ich" sedang dalam bahasa Inggris "The I". Dalam bahasa Inggris kata Aku atau "I" ini selalu ditulis dalam huruf besar, sebab kalau kita jujur sudah merupakan sifat dari manusia bahwa sang Aku ini ingin selalu dijadikan nomor satu dan juga yang paling besar dan paling diutamakan daripada yang lain. Hal inilah yang pada umumnya menjadi penyebab utama dari luka batin,misalnya karena kita merasa diremehkan, tidak dihargai maupun dihina. Kita tidak bisa dan tidak mau menerima, apabila orang lain mengecilkan/ menghina Sang Aku!
Cobalah renungkan oleh Anda mengenai masa lampau Anda, walaupun bagaimana indahnya sekalipun juga, waktu tersebut tidak akan bisa diulang lagi dengan sikon yang sama, karena masa lampau ini sudah "Mati". Banyak orang yang berusaha untuk menggali bahkan menghidupkan kembali masa lampaunya, tetapi ini adalah pekerjaan yang sia-sia, sebab yang sudah mati tidak akan bisa dihidupkan kembali.
Masa lampau bagaimana indah maupun bagaimana buruknya sekalipun juga; ini adanya hanya di otak anda saja. Tetapi dimana sang Akunya mati, maka hilanglah sudah semua masa lampau tersebut sama seperti komputer yang rusak. Jadi sebenarnya masa lampau itu adalah waktu yang lampau dan jam waktu tidak akan bisa diputar balik.
Hanya sayangnya banyak sekali orang yang tidak mau menerima kenyataan ini. Maka dari itu agar anda bisa mendapatkan damai dihati,anda harus siap menerima kenyataan bahwa masa lampau itu sudah mati, biarlah ia dikubur dan tidak perlu digali terus-menerus atau dikenang terus. "Let the dead bury the dead" Buat apa Anda memenuhi Hard Disk File di otak Anda dengan hal-hal yang tidak menyenangkan apakah tidak sebaiknya segera di DELETE saja kenangan pahit tersebut?
Kalau kita jujur tujuan utama dari hidup ini sebenarnya hanya untuk mengabdi bagi Sang Aku. Hal ini dimulai sejak kita brol di dunia ini,sang bayi menangis, karena Sang Aku nya lapar. Kita kerja lembur bahkan melakukan KKN demi memuaskan keinginan Sang Aku. Sang Aku inilah yang menjadi pokok utama dari kehidupan setiap manusia.Rasa takut timbul, karena saya tidak ingin Sang Aku ini menderita !
Renungkan dan jawablah sendiri, dimana adanya Sang Aku yang kita puja dan sembah maupun rawat selama puluhan tahun, pada saat Sang Aku ini kojor ? Sang Aku ini akan menjadi seongok daging busuk yang menjijikan atau menjadi abu & Gone With The Wind, walaupun nama Anda ini Hitler, Raja Nero ataupun Bill Gates semuanya akan mengalami nasib yang sama. Jadi kesimpulannya Sang Aku ini sebenarnya Ora Ono alias Tidak Ada! Sang Aku ini hanya sekedar numpang lewat saja di benak beberapa orang, karena Sang Aku ini bentuknya maya, seperti juga di film Matrix.
Kebanyakan orang di dunia ini tidak bisa menikmati hidup inidengan tenang dan tanpa stress ? Masalahnya mereka itu bukannya hidup dimasa sekarang ini melainkan hidup dimasa lampau atau dimasa yang akan datang. Mereka takut menghadapi hari esok, padahal jam dinding baru saja menunjukkan pkl 07.00 pagi; buat apa pusing mikirin hari esok, nikmatilah hari ini dengan pikiran dan hati yang damai tanpa harus memikirkan hari esok maupun hari kemarin.
Agar bisa mendapatkan rasa damai di hati; syarat yang paling utama adalah Anda harus bisa hidup dimasa sekarang ini sambil menyanyikan lagu Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see.
Kata believe dalam bahasa Inggris diserap dari dua kata "be and lieve" yang bisa diartikan "be life" hiduplah sekarang ini. Apabila kita bisa hidup pada masa sekarang ini berarti Anda hidup dalam kasih sebab kata "lieve" bisa diartikan juga sebagai "kasih" yang diserap dari kata Liebe dlm bhs Jerman ataupun Liefde dlm bhs Belanda.Pada saat Anda mengucapkan kata Believe berarti Anda juga harus siap dan dapat meninggalkan atau melupakan masa lampau Anda, sebab kata believe ini juga bisa diartikan sebagai "be-leav-ing" .
Agus Syafii Hidup adalah jalan yang kita lihat. hidup juga adalah jalan yang anda pilih untuk terjadi. jika anda tetap fokus pada apa yang anda anggap salah, maka kesalahan yang akan anda dapat, alihkan perhatian anda pada kemungkinan atau harapan yang positif, maka hal positif yang akan menjadi hidup anda, Nikmati Hidup sebagaimana adanya. Disetiap waktu yang berharga setiap hari. Nikmati sukses anda hari ini dan sekarang, tidak dari jarak yang jauh.. tetapi saat ini. mencoba menikmati dan beryukur atas apa pun yang anda dapat, saat ini lebih banyak yang anda punya dari pada yang anda inginkan. lihat kesekeliling anda betapa indah dunia yang anda miliki. Sukes sebenarnya adalah suatu masa yang memang harus anda mulai dari hari ini. kenyatan tidak selalu sama dengan apa yang anda harapkan. APa yang anda harapkan memang berpengaruh terhadap kenyataan yang anda miliki. harapan anda bukan alat ajaib yang membawa langsung anda kepada pilihan anda. Tetapi harapan membuka jalan yang lebih jelas dan realistik terhadap kehidupan anda.Harapan tidak semerta-merta merubah dunia disekeliling anda. Harapan positif bisa membuat anda melihat kedepan, dan itu membuat anda menjadi termotivasi untuk menjadi petunjuk jalan untuk anda menjadi sukses. Sebelum anda meninggal kan waktu yang berharga hari ini, coba renungkan dan lihat apa yang anda miliki.. bukankah banyak hal yang menabjubkan yang anda miliki.... coba tinggalkan ketakutan tentang apa yang akan terjadi besok, coba lihat apa yang anda miliki saat ini. Siapa anda saat ini adalah cukup, Apa yang anda punya saat ini adalah menyenangkan bukan, Saat ini adalah saat yang sangat baik. Biarkan diri anda berada pada saat ini nikmati apa yang nada miliki saat ini. nikmati kesempurnaan yang anda miliki. karena anda telah memiliki banyak hal di dalam diri anda, fokus pada apa yang anda miliki bukan pada apa yang anda inginkan. Dari sudut pandang anda, apapun menjadi penterjemahan dari yang anda pikirkan, ketahui anda memiliki banyak hal yang baik yang mengalir dalam hidup anda. hidup yang anda jalani adalah cara hidup yang anda pilih dan anda alami dan saran saya nikmati setiap saat dengan hal yang berarti dan tujuan hidup yang berharga.Nikmati apa yang ada disekeliling anda, perhatian, Cinta, Kasih sayang, tujuan hidup, saat ini ada;ah waktu anda, tampat anda melangsungkan hidup, bukan besok, atau kemarin tapi hari ini. hari ini adalah waktu untuk untuk hidup, untuk mengalami, untuk belajar, dan untuk sukses. Mari kita nikmati hari ini untuk terus beryukur dan menjadi sukses pada hari ini... "Lakukan Saat ini..Sukses Hari Ini.. Hiduplah Hari ini.. Karena Nanti dan Esok kita tidak mengetahuinya".
Sungguh, merupakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika cinta kita ditolak oleh seeorang yang sangat kita harapkan cintanya. Sebahagaian dari kita mungkin akan langsung berfikir sepertinya Allah tidak adil. Langit terasa muram dan tidak bercahaya. Bukankah cinta kita benar-benar tulus dan murni. Untuk mehjaga diri dari dosa, menjaga pandangan, menjaga hati, bahkan demi menjaga kesucian agamaNya? Apa yang salah pada diri kita? Tidak layakkah kita mendapakan janjinya, "Jika kamu menolong agama (Allah), niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7). Begitu mahalkah tiket untuk mendapatkan pertolonganNya, lantas di manakah janjiNya, "Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." (QS. Al-Mu'min : 60). Ya, sebenarnya faktor yang paling utama mengapa keinginanmu belum dikabulkan, padahal usia sudah waktunya, tujuan sudah mulia, bahkan mungkin kemampuan sudah ada. Hanya satu faktor penyebabnya. Yaitu perbedaan persepsi antara kita dan Allah. Kita seringkali menganggap bahwasanya apa-apa yang sesuai dengan keinginan kita itulah yang terbaik bagi kita, padahal tidak selamanya loh, (baca QS. Al-Baqarah : 216). Dari ayat tersebut, kita tahu bahwa ada hikmah dibalik setiap kejadian apapun yang menimpa kita, ada kebaikan dibalik sesuatu yang kita anggap buruk, demikian pula sebaliknya. Agaknya tidak ada salahnya jika kita sedikit mendengar penuturan Ibnu Al-Jauzy yang mengajarkan, "Jika anda tidak mampu menangkap hikmah, bukan karena hikmah itu tidak ada, namun semua itu akibat kelemahan daya ingat anda sendiri. Anda kemudian harus tahu bahwa para raja pun memiliki rahasia yang tidak diketahui setiap orang. Bagaimana mungkin anda dengan segala kelemahan anda akan sanggup mengungkap sebuah hikmah?" Betapa berat pun sebuah ujian yang kita alami, pasti akan ada jalan keluarnya. Allah menyatakan, "Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya." (QS. Al-An'am : 152). Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, "Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan baginya keperluannya." (QS. At-Thalaq : 2-3). Yakinilah bahwa kegagalan cinta yang kita alami, tertolaknya cinta yang kita ajukan, sudah dirancang sedemikian rupa skenarionya oleh Allah. Sehingga tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Daripada kita larut dalam kesedihan, menagis, menyesali diri, patah hati atau bunuh diri. Lebih baik kita berbaik sangka saja kepada Allah. Tidak pantas diri ini mengeluh apalagi menyesali sebuah kegagalan. Bersikaplah positif ke depan. Yakinlah bahwasannya kegagalan cinta bukanlah akhir dari segalanya, bukanlah awal dari sebuah kehancuran. Sejarah mencatat, banyak sekali pribadi-pribadi sukses di dunia ini mengawali kesuksesannya setelah ditimpa berkali-kali gagal dalam usaha mereka, begitu juga tentang urusan cinta. Sebagai manusia, kita dibekali potensi yang sedemikian hebatnya oleh Allah. Dan terkadang potensi yang ada pada diri kita justru baru kita ketahui setelah kita menghadapi beberapa kali kegagalan. Aa Gym pernah mengatakan, "Jika nasi sudah menjadi bubur, maka kita harus mulai memikirkan ayam, cakwe, sledri, bawang goreng, dan sambel, sehingga bubur kita akan menjadi bubur ayam yang spesial." Karena itu, satu orang yang menolak cinta kita seharusnya tidak menjadikan kita lupa pada puluhan bahkan ratusan orang lain yang menyayangi kita. Namun justru seharusnya menjadi cambuk bagi diri kita untuk menjadi lebih baik
“Sobat!” Aku mulai bimbang untuk sekedar mencoretkan pena pada lembaran kertas kumal. Terasa begitu berat hanya untuk mengungkapkan secuil kata. Masih teringat semuanya, saat gelap menyelimuti lereng gunung. Perapian kian redup seiring hembusan angin dingin menusuk. Kabut putih menyebar memenuhi langit, di dasar jurang terhampar warna kelam. Daun kering melayang perlahan menghampiri seonggok bunga edellweis yang menyambutnya dengan kegembiraan sesungguhnya, seperti pelukan sahabat lama, kembali membawa canda setelah menghilang bertahun dalam pertikaian panas mentari. “Sobat!” Dengan serangkai kata itu aku selalu memanggilmu, tanpa ada perasaan merendahkan. Saat perapian benar-benar padam, keremangan menjadi penerang. Redup nyala lentera berusaha menerangi terjalnya dinding batu. Bau wangi tanah gunung menyeruak masuk ke dalam tenda, dengan khidmat menyimak khayalan yang ada di dalam kepalaku. “Sobat!” Segalanya berawal begitu saja, tanpa kebohongan dan rekayasa. Sudah terbukti, udara dingin menyajikan titik embun ketika pagi menjelang, kabarkan berita malam yang harus segera berakhir. Tapi aku juga tidak tahu seandainya semua itu sebuah kebohongan yang direkayasa. “Sudahlah….” Toh batu di sana msih terus mendengar, perasaan menjadi lega meski tidak sepatah kata diucapkanya. Mungkin aku sudah gila berharap pada batu untuk bersuara, berkata, atau memaki. Kepercayaan pada kalimat dari rangkaian kata mulai kacau saat keraguan tunjukan jati diri. Dia muncul begitu saja bercerita panjang tentang keyakinan, mendongeng cerita usang. Kemudian pergi begitu saja, dilain waktu dating kembali mengajarkan senyum tanpa makna. Hentakan ranting jatuh membuat aku tersadar untuk bertanya. “Senyum memiliki susunan sederhana.” “Mengapa harus dicari di sini?” Yang jelas aku harus selalu mencari, ke ujung dunia sekalipun. Lama aku terdiam menanti, tenda robek semakin kotor oleh ulah debu yang hendak menumpang tidur. “Jujur..?” “Tidakkah kamu tahu?” “Aku selalu berbohong, berusaha terus menghindar.” Pasti ada sebuah alasan untuk berkata tidak jujur. Senyum pergi begitu saja tanpa menoleh, batu terpekur mendengarkan cerita pengantar tidur yang bagiku tidak lebih dari pengganggu tidur. Mungkin batu bosan untuk mendengarkan tapi tidak tega untuk mengatakanya. Aku terdiam, tidak peduli senyum datang kembali, bukan karena kesombongan telah menguasai, bukan karena congkak mengancam. Sudah tidak ada lagi perkataan, tidak tersisa sedikitpun kemampuan bicara, habis ditelan pergolakan tanpa kepedulian, tenggelam terendam ketakutan merangkai sebuah makna. Bahkan takut bertemu manusia, jenuh dengan kepulan bualan membumbung, jengah dengan kepedulian yang selalu memihak. Terlihat mereka memikul ancaman, mengacungkan belati dendam, siapa membantai kosong tatapanku. “Sobat!” Terkenang kembali masa kecil, pikiran menerawang terbang tinggi kemudian hinggap melepas lelah di atas rumah tua. Memandang sekeliling semua terlihat sunyi, suara binatang malam memanggil syahdu. Aku duduk, kepala terasa pusing. Bumi tempat berpijak berputar semakin pelan seolah menanti teman yang tertinggal jauh. Lampu lentera blingsatan, bergoyang mengikuti irama angin yang mampir mengabarkan berita indah dari puncak malam. Asap bergerak perlahan, menyapa gerombolan nyamuk berparade, suara cicak berbisik, mengendap-endap dalam kegelapan. Di luar bulan tersenyum dengan malu, menunduk, menghamparkan cahaya sejuk di atas daun pinus dalam baying keremangan. Perlahan angin dating membawa selimut gelap pencipta impian. “Sobat!” Di sinilah semua berawal, menempuh hidup dengan jutaan suara sendu. Cemara berteriak kegirangan, bersimpuh memandang dingin, menjanjikan sajak-sajak pelukan. ”Sobat!” Aku tetap di sini, menanti angin kembali berhembus. cairo,20 mei 2008 terunt sahabatkoe dimanapun berada
Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan menyenangkan. Itu garansi dari Allah 'Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang dalam firmanNya yang suci (QS. 30 : 21). Apabila ada ungkapan "Pernikahan tidak selamanya indah", pasti ada error yang dilakukan oleh para pelaku pernikahan. Entah itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam proses pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang makin tidak apresiatif terhadap kewajiban universal dari Pencipta alam semesta ini. Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya institusi yang sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya, Islam selalu mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui." (QS. 13 : 38). Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga menekankan para pemuda untuk bersegera menikah. "Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi)." (HR. Bukhari). Dari sini makin jelas, ke mana orientasi perintah menikah itu sesungguhnya. Tujuan pembentukan institusi-institusi pernikahan (keluarga) tak lain adalah, agar terpancang sendi-sendi masyarakat yang kokoh. Sebab keluarga merupakan elemen dasar penopang bangunan sebuah masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat akan kuat dan kokoh apabila ditopang sendi-sendi yang juga kokoh. Dan kekokohan itu tidak mungkin tercapai kecuali lewat penumbuhan institusi-institusi keluarga yang bersih. Pasal kewajiban menikah adalah merupakan sunah Nabi SAW yang harus ditaati setiap Muslim, tidak akan kita bahas lebih jauh di sini. Begitu pun soal pernikahan merupakan aktualisasi keimanan atau aqidah seseorang terhadap Tuhannya, juga tidak akan kita perpanjang dalam tulisan ini. Sehingga dia menjadi alasan mendasar Islam, kenapa pernikahan hanya sah jika dilakukan oleh pasangan manusia yang memiliki aqidah, manhaj (konsep) hidup, serta tujuan hidup yang sama. Yakni mencari keridhaan Allah 'Azza wa Jalla. Ada sisi krusial lain dari pernikahan yang akan kita bahas lebih jauh. Yakni pernikahan dan kaitannya dengan peradaban manusia. Pasal ini yang mungkin jarang dicermati oleh kebanyakan masyarakat, termasuk masyarakat Islam.
Bahwa ada korelasi kuat antara keberadaan institusi pernikahan dengan potret masyarakat yang akan muncul (seperti telah disinggung sebelumnya), adalah tidak bisa kita pungkiri. Sebab indikasinya gampang sekali dilihat dan dirasakan. Masyarakat yang menghargai pernikahan, pasti mereka merupakan masyarakat yang beradab. Demikian sebaliknya. Maka tatkala kita telusuri, apa penyebab masyarakat Barat menjadi masyarakat yang tumbuh liar tanpa nilai-nilai etika, moral, dan agama. Itu sangat mudah kita pahami. Lantaran mereka adalah masyarakat yang tidak memahami makna sakral pernikahan. Hasrat seksual menurut mereka, bisa mereka lampiaskan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sehingga tak ada kaitan antara kehormatan dan kesucian seseorang dengan pernikahan. Dari sinilah awal munculnya masyarakat Barat yang tidak beradab. Mereka menjadi masyarakat pemuja syahwat, menawarkan budaya buka-bukaan aurat alias telanjang, memamerkan secara vulgar budaya hidup seatap tanpa menikah antara laki-laki dan wanita. Maka kasus-kasus perceraian kian tidak terhitung jumlahnya. Ribuan anak-anak lahir tanpa jelas nasabnya (garis keturunannya). Setelah besar, generasi tanpa bapak itu pun membentuk komunitas anak-anak jalanan yang selalu menimbulkan problem bagi masyarakat mereka sendiri. Dari situlah siklus budaya nista bermula. Ironisnya, dalam masyarakat Islam pun mulai muncul sikap yang kurang apresiatif terhadap perintah menikah. Jika tidak sampai dikatakan enggan menikah, setidaknya ada gejala masyarakat Islam mulai bersikap mengulur-ulur waktu pernikahan. Padahal ini sangat berbahaya. Boleh jadi gaya hidup hedonis Barat yang sangat intens disuguhkan lewat bacaan dan film-film, telah menyebabkan perubahan pola pemikiran masyarakat Islam. Khususnya dalam menyikapi perintah menikah. Inilah barangkali yang menyebabkan pasangan muda-mudi dalam masyarakat kita, lebih senang berlama-lama pacaran ketimbang memikirkan untuk serius membangun rumah tangga. Kalau pun di sana-sini marak acara-acara pesta pernikahan, itu mungkin tak lebih hanya sebuah basa-basi kultural. Semuanya terlepas dari ikatan nilai-nilai religius yang sakral. Sehingga kita sering menyaksikan pesta-pesta pernikahan, tak lebih hanya sebagai ajang pamer kemewahan dan bahkan pamer kemaksiatan. Sebab boleh jadi, sebelum pesta itu berlangsung mereka sudah menjalani praktek-praktek layaknya kehidupan suami-isteri. Astaghfirullah! Kenapa Islam menggesa para pemuda untuk menikah, semakin jelas kita pahami. Bahwa di tengah maraknya budaya hedonisme yang menjangkiti dunia, sudah barang tentu institusi-institusi pernikahan kian dibutuhkan keberadaannya. Namun tentu saja bukan hanya memperbanyak lembaga-lembaga Rabbani itu saja yang kita perhatikan. Tapi yang lebih penting adalah, bagaimana rambu-rambu suci untuk mencapainya, bisa tetap kita jaga. Sehingga banyaknya lembaga-lembaga pernikahan berbanding lurus dengan tumbuh suburnya budaya kesadaran masyarakat untuk memelihara kesucian diri. Dari keluarga-keluarga yang bersih inilah, kelak akan lahir generasi yang kokoh. Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan janji Allah, bahwa masyarakat bisa makmur (kaya) dan kuat lewat jalur pernikahan, akan terbukti. Karena itu makin tertutup alasan bagi para pemuda-pemudi untuk tidak segera menikah, jika mereka nyata-nyata telah sanggup melaksanakannya. Dengan kata lain, sikap menunda-nunda untuk segera menikah di kalangan muda-mudi, memang sangat aneh. "Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara menikah. Padahal Allah berfirman : Jika mereka miskin, maka Allah akan membuat mereka kaya dengan KeutamaanNya," kata Umar bin Khattab RA. Ayo, tunggu apa lagi? Jangan tunda-tunda pernikahan!
by: nadirsyah hosen Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Ebiet G Ade ketika belasan tahun yang lalu, dalam lagu yang meledak menjadi hits, dia menggugat dan ingin bertanya pada rumput yang bergoyang. Adakah dia tak lagi punya asa? Adakah dia frustasi? Namun saya bisa menangkap apa isi gugatannya ketika dia berteriak, "Mengapa di tanahku terjadi bencana?" Inikah juga yang ditanyakan bangsa kita kini? Konon, Ebiet sudah kabarkan berita ini kepada laut, karang, ombak bahkan matahari. Sayang, dia mengaku tak memperoleh jawaban. Yang bisa dia lakukan adalah menduga-duga. Mungkinkah ini murka Tuhan? Mungkinkah ini karena alam tak lagi bersahabat? Entahlah…Boleh jadi Tuhan memang sedang murka. Namun saya kira benar bahwa alam tampaknya sedang tak bersahabat dengan kita. Merapi memuntahkan laharnya. Irian Jaya dan Samarinda diterjang banjir. Belum habis air mata kesedihan ini,kita dihadapkan pada tsunami yang meluluh lantahkan bumi Aceh. Api… Air… Inikah tanda kemarahan alam? Jika iya, mengapa Tuhan ijinkan alam untuk mengeskpresikan kegalauannya? Sampai kapan Tuhan ijinkan alam untuk marah? Kalau memang alam marah, benarkah ini juga berarti Tuhan sedang marah? Ah….! tiba-tiba gugatan dan renungan Ebiet belasan tahun yang lalu terdengar kembali dan mampir ke kamar saya. Bedanya, saya masih punya harapan, walaupun diimbuhi sedikit rasa cemas. Harapan itulah yang membuat saya tak bertanya pada rumput yang bergoyang. Harapan itulah yang membuat saya "merayu" Tuhan dalam do'a-do'a saya. Semoga Tuhan segera menyuruh alam berhenti "ngambek". Rumput bergoyang, merapi berguncang, laut bergelombang, dataran tergenang Ah......duhai alam, terimalah salamku, bukankah tak baik kalau kita bertengkar lebih dari tiga hari?
nadirsyah hosen Layaknya seorang remaja, Islam di negara kita dipenuhi dengan segala asesoris. Wajah yang sedikit jerawatan dan berlubang ditutupi dengan make up tebal, bibir dipoles dengan gincu merah tebal, dan, tak lupa, kalau diberitahu mana yang baik dan mana yang kurang baik maka segala argumen pembenaran akan keluar sesuai dengan "pandangan dunia"-nya. Ketika sebuah masjid berdiri megah di Rt saya, para tokoh masyarakat berkata, "sekarang kita nggak perlu numpang sholat ke masjid Rt sebelah" Dan inilah yang terjadi, masing-masing Rt dan kelurahan berlomba membuat Masjid. Kita bukannya berfikir bagaimana memanfaatkan masjid yang sudah ada, tapi mengerahkan semua potensi dana ummat (yang terbatas itu) untuk membangun sebuah masjid baru. Ironisnya, di saat banyak remaja masjid yang menyetop mobil-mobil sambil menyorongkan kotak amal, dan akhirnya banyak masjid mewah yang dapat dibangun, orang-orang malah enggan untuk sholat di masjid, dan membiarkan masjid itu berdiri kosong tanpa penghuni layaknya sebuah kuburan yang ada di Mesir ini ** Banyak pesantren yang mengajarkan santrinya untuk hafal al-Qur'an. Di tingkat perguruan tinggi, dan saat ini ada dua lembaga yang khusus untuk menghafal al-Qur'an di Jakarta, satu untuk wanita (IIQ-Jakarta) dan satunya lagi khusus pria (ISIQ-Jakarta). Saya bersaksi bahwa pesantren dan perguruan tinggi itu membutuhkan banyak perhatian dari kita semua agar kelangsungannya terus berjalan. Bukankah dengan menghafal al-Qur'an, mereka telah melestarikan ayat-ayat suci itu. Sungguh luar biasa, di tengah dunia yang semakin kompetitif ini, mereka masih mau menghafal al-Qur'an. Ironisnya, pemerintah malah membangun Bayt al-Qur'an. Pak Menteri Agama dengan bangga mengatakan bahwa Bayt al-Qur'an di Taman Mini itu tidak sepeserpun meminta dana pada pihak luar negeri. Kemegahan Bayt al-Qur'an Indonesia nomor dua di dunia! Apa isi Bayt al-Qur'an? ternyata hanyalah sebagai museum al-Qur'an. Artinya, naskah klasik al-Qur'an ditempatkan di sana. Pertanyaannya, tidakkah cukup membangun Bayt al-Qur'an dengan sederhana dan tidak perlu ambisius menjadi yang nomor dua di dunia! Sisa dana (yang katanya murni dari bangsa sendiri bukan minta-minta ke luar negeri) itu sebaiknya justru dialirkan kepada pesantren dan perguruan tinggi yang khusus untuk menghafal al-Qur'an. Dari Bayt al-Qur'an, al-Qur'an dilestarikan dalam bentuk benda mati. Ini baik daripada tidak ada sama sekali. Namun, dari pesantren dan perguruan tinggi khusus menghafal al-Qur'an, al-Qur'an akan dilestarikan oleh benda hidup; yaitu santri dan mahasiswanya. Di lembaga-lembaga itu, al-Qur'an bukan cuma dihafal, namun dipelajari seluk beluknya, qiraatnya, kandungannya dan gaya bahasanya. Di Bayt al-Qur'an, al-Qur'an "cuma" dipajang dan dipamerkan! ** Tidak ingatkah kita, dulu sekitar tahun 1999 di tengah kesulitan akibat krisis moneter, lagi-lagi kita bersolek dan menutupi lubang-lubang diwajah kita. Kita selenggarakan takbir akbar di monas dengan biaya 1,5 miliar. Seperti biasa, kita terharu melihat soeharto bertakbir! Saya justru menangis melihat betapa mubazirnya acara itu. Kalau soeharto memang mau bertakbir...silahkanlah bertakbir (sebagai muslim dia dianjurkan melakukannya). Tapi, perlukah disediakan forum khusus untuk itu dengan biaya gila-gila-an?. Salah seorang pejabat pemerintah (tidak disebut namanya di Koran,jadi saya tidak tahu namanya) mengatakan bahwa uang 1,5 miliar itu tak akan dibagi rata kalau diberikan ke fakir miskin sehinggga bisa menimbulkan iri; jadi mendingan dibikin takbir akbar aja! Beliau rupanya lupa bahwa dibalik "argumen" itu dia pun menyadari sebenarnya masih banyak kaum miskin di negara kita; saking banyaknya bahkan 1,5 miliar pun tak cukup membantu fakir miskin itu. Jadi, bukannya mencari tambahan agar bisa cukup membantu fakir miskin yg banyak itu, kita malah "membelanjakan" modal 1,5 miliar itu dengan sia-sia. Jadi, fakir miskin akhirnya tak mendapat sama sekali uang 1,5 miliar itu! Saya nggak ngerti politik-politikan. Namun nurani saya mengatakan bahwa islam di negara kita masih sebatas asesoris dan simbol belaka. Ingin rasanya saya panjat tiang langit dan saya adukan hal ini langsung kehadapan Allah swt. Saya percaya, ibarat kaum remaja, tak semuanya lebih mementingkan asesoris dan simbol. Ada juga umat islam yang lebih suka melihat esensi dalam ber-islam. Sayang, mereka belum masuk ke panggung kekuasaan....sehingga mereka tak terlihat. maka dari itu, Ingin rasanya saya panjat tiang langit dan berdo'a langsung dihadapan Allah swt memohon agar umat islam di Indonesia cepat dewasa dan meninggalkan segala make up dan gincu ini. Duh Gusti…berikanlah soeharto balasan yang setimpal dengan amal ibadahnya,amiin….!
nadirsyah hosen Masih hidupkah Khidhr ? Entahlah, saya memang mendengar cerita seorang 'alim yang mengaku berjumpa Khidhr. Nama Khidhr memang sudah terlanjur melegenda, meskipun al-Qur'an sendiri tidak pernah menyebut nama Khidhr secara terang-terangan. Al-Qur'an melukiskan Khidhr dengan "...seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (QS 18:65) Perhatikan redaksi yang digunakan al-Qur'an. Ternyata, Khidhr atau apapun nama beliau hanyalah satu dari sekian banyak hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu. Boleh jadi banyak sekali hamba Allah yang punya kelebihan seperti Khidhr, tetapi Allah tidak beritakan kepada kita atau kita memang tidak mengetahuinya. Tapi itulah Khidhr, sebuah nama yang terlanjur melegenda dan menyimpan misteri yang tak kunjung habis dibicarakan. Dalam surat al-Kahfi diceritakan bagaimana Nabi Musa ingin berguru dengan Khidhr. Khidhr semula menolak, namun Musa terus mendesak. Perhatikan redaksi al-Qur'an ketika mengutip penolakan Khidhr, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" (QS 18:67-68) Khidhr menolak Musa bukan dengan argumen bahwa Musa itu bodoh atau malas. Khidhr menolak Musa karena Musa tidak akan bisa bersikap sabar. Soalnya, kata Khidhr, bagaimana kamu bisa sabar pada persoalan yang kamu tidak punya ilmu tentangnya? Begitulah yang terjadi. Musa selalu memprotes dan menyalah-nyalahkan perbuatan Khidhr yang, dipandang dari sudut pengetahuan Musa, merupakan perbuatan yang keliru. Sayang, kita jarang mau belajar dari kisah Khidhr dan Musa ini. Seringkali kita sebar kata "sesat", "kafir", "menyimpang", "bid'ah" kepada saudara-saudara kita, yang dipandang dari sudut pengetahuan yang kita miliki, melakukan kesalahan besar. Kita menjadi emosional, kita menjadi tidak sabar. Pada saat itu, ada baiknya kita ingat kembali kisah Khidhr dan Musa. Kisah Khidhr mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran merupakan lambang tingginya pengetahuan.
April 13, 2008 Oleh :shofi el-fahry Sederhananya, sekularisme adalah paham memisahkan agama dari kehidupan ekonomi, politik, dan budaya pemeluknya. Agama ditarik mundur dan dimasukkan ke dalam kamar kecil yang bernama ruang privasi saja. Menurut mereka yang berpaham sekuler, membawa agama ke ruang publik adalah ‘pemerkosaan’ agama dan menjadikannya sebagai tunggangan kepentingan-kepentingan. Di Barat, istilah sekularisme sendiri dikenal pertama kali setelah perang agama 30 tahun yang berakhir dengan perdamaian Westfalia tahun 1648 M. Awalnya, istilah ini bermakna sempit, kemudian diperluas penggunaannya oleh GJ Holyoke (1817-1906 M) sehingga menjadi salah satu term penting dalam diskursus-diskursus politik, sosial, dan filsafat. Terminologi sekularisme kemudian berkembang hingga dipahami sebagai memisahkan agama dari negara atau memisahkan doktrin-dontrin agama dari ranah kehidupan pemeluknya yang umum (Abdul Wahhab Al-Masiriy: 1999 M). Dalam memahami teks-teks keagamaan, sekularisme sering melakukan takwil (pelarian teks agama). Tulisan berikut berusaha menunjukkan bahwa dalam takwil-takwil ’sekularis’ tersimpan konfesi atau bukti, bahwa Islam adalah agama yang komprehensif: mengatur ekonomi, politik, dan budaya. Islam dalam politik Contoh pentakwilan ’sekularis’ atas teks agama dalam politik adalah pentakwilan peperangan dalam Islam. Peperangan dalam Islam ditafsirkan sebagai peperangan politis yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Mereka menegaskan bahwa peperangan bukanlah wilayah agama. Memahami keberadaan agama dalam masalah peperangan adalah dusta. Menurut pandangan sekularis, perang Badar terjadi hanya karena politik perebutan ekonomi (dagangan) antara Rasul yang baru hijrah ke Madinah dan kuffar Makkah. Saat rombongan Abu Sufyan datang dari Suriah dengan barang dagangannya, mereka dihadang pasukan Muslimin dari Madinah sehingga terjadilah perang. Pembebasan kota Makkah terjadi disebabkan kecintaan Rasulullah SAW dan sahabat muhajirin kepada tanah tumpah darahnya (hubb al wathan). Padahal dalam Alquran, yang merupakan first source Islam, kedua peperangan ini dirambah atau merambah ayat-ayat Alquran. Surat Al Anfal adalah surat yang dimulai dengan pembahasan rampasan perang Badar, lalu dilanjutkan kronologi perang sampai ayat 14. Dalam ayat 15 surat tersebut ditegaskan bahwa lari dari medan perang adalah larangan dan bahkan dosa besar. Surat An Nisa ayat 95 dan seterusnya juga menjelaskan keutamaan orang-orang yang keluar bertempur di medan Badar. Pembebasan kota Makkah juga diperintahkan, bahkan satu surat dalam Alquran dinamai Al Fath yang artinya pembebasan Makkah. Teks-teks sejenis ayat-ayat Alquran tersebut ditafsirkan sebagai ayat-ayat politis. Pentakwilan teks-teks agama kepada wilayah politik seakan menjadi konfesi bahwa agama juga ada di dalam politik. Ini juga membantah bahwa agama tidak memiliki keberadaan dalam wilayah politik. Konfesi itu juga membantah statement yang mengatakan bahwa membawa agama ke dalam wilayah politik adalah pemerkosaan agama demi kepentingan politik. Contoh lain yang ditakwil bermotif politik belaka adalah kodifikasi mushaf pada periode sahabat Utsman RA. Kodifikasi mushaf yang kedua itu sering ditafsirkan sebagai kodifikasi politik Suku Quraisy untuk menghegemoni suku-suku Arab lain, sehingga hasil mushaf-nya juga disebut sebagai mushaf politis. Bila bermotif politik, maka bukankah ini juga termasuk konfesi sejarah bahwa agama juga merambah wilayah politik. Islam dalam budaya Contoh mudah keberadaan agama dalam budaya yang dapat diambil dari takwil-takwil sekularis adalah masalah jilbab. Karena agama harus dikungkung dalam ruang privat, maka menutup rambut bagi Muslimah juga perlu dilarikan dari wilayah agama ke wilayah budaya. Memakai jilbab harus datang dari kesadaran tanpa harus dibebani rasa berdosa karena ia hanya budaya yang diambil dari Arab belaka. Sekali-kali, ada yang manjelaskan bahwa jilbab adalah ajaran Taurat dan Injil, bahkan ia adalah budaya sebelum agama Yahudi dan Nasrani. Namun, ketika ternyata Alquran juga menjelaskan masalah menutup aurat Muslimah dan mengaturnya, maka Alquran harus ditakwil sebagai ayat-ayat bias budaya Arab. Masalah pakaian adalah masalah budaya yang standarnya diukur sesuai kepantasan setempat, tujuannya adalah agar seseorang tampil dengan terhormat dan bersajaha. Ini harus dilakukan oleh siapa saja dan disesuaikan dengan budaya lokal di mana saja. Ia tidak dapat ditarik ke wilayah agama sehingga agama tak perlu repot-repot ikut menentukan batasan dan aturannya. Kurang lebih demikianlah takwil ’sekularis’ lain atas hukum jilbab. Dalam Alquran Surat An-Nur ayat 31 disebutkan, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.” Dan dalam Surat Al Ahzab ayat 59 juga dijelaskan, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Dalam kedua ayat ini, Alquran menjelaskan tata cara menutup aurat Muslimah. Tata cara itu kemudian pada akhirnya ditemukan bentuknya sehingga menjadi bentuk jilbab yang dipakai oleh Muslimah sekarang pada umumnya. Apabila kita setuju bahwa memakai jilbab adalah bukan termasuk agama melainkan budaya yang standarnya ditentukan oleh nilai kepantasan, sementara dengan jelas Alquran (Islam) mengatur batasan dan tata cara memakainya, maka bukankah ini konfesi bahwa di dalam penafsiran ’sekularis’ terdapat bukti campur tangan agama dalam wilayah budaya? Ringkasnya, saat paham sekularisme mentakwil teks-teks keagamaan (Alquran) sebagai teks-teks politik, sosial, ekonomi dan budaya, maka saat itu juga, sekularisme seakan mengakui dan berkata: Islam merambah wilayah politik, sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan, etika, moral dan seterusnya.
Arti dan Hakekatnya : Pernafasan atau bernafas adalah suatu peranda hidup semua makhluk Tuhan. pertanda hidup ini berwujud gerak-mobah-molah oleh yang dinyatakan hidup itu sendiri. “Bernafas” pada prinsipnya : a. memasukkan nafas kedalam tubuh dengan jalan menghirup udara bersih berisikan unsur-2 daya hayati hidup.. Pada hakekatnya adalah menghimpun tenaga/kekuatan tubuh/badan menjadi kuat karena mnerima daya hayati hidup (RAHSA) yang dikirim oleh jantung. b. mengeluarkan nafas dari dalam tubuh dengan jalan menghembuskan udara kotor berisikan unsur-2 daya hayati hidup yang telah digunakan untuk kegiatan-2 tubuh. Pada hakekatnya adalah kehilangan tenaga/kekuatan, tubuh/bbadan menjadi lemah karena daya kekuatan (RAHSA) ditarik kembali dari seluruh anggota tubuh kejantung. Dalam hal ini jantung sebgai pusat mahligai hati sanubari berfungsi sebagai penghimpun dan pengatur daya hayati hidup (RAHSA) dalam bentuk tenaga/daya kekuatan. Rahsa ini diangkut oleh darah bersih menyerapi keseluruh anggota tubuh. Cara mengatur masuk dan keluarnya nafas kedalam tubuh dan dari dalam tubuh secara tepat, teratur, dan terarah serta seimbang dalam bentuk latihan-2 yang berturut turut disebut pula olah nafas. Cara latihan dn kegunaannya dalam olah jiwa : Disni tidak mengajarkan bagaimana praktek cara berlatih pernafasan, namun hanya menjelaskn suasana sikap mental yang baik dan tepat dalam tatacara latihan tersebut. Dalam hal ini harus dilakukan dengan khidmat, tenang, bebas dan ikhlas, tiada merasa dipaksa dan terpaksa. Sikap tubuh harus lepas, santai/relax agar mudah daya hayati hidup meresap menyerapi jaringan, sehingga seluruh jasd diserapi RAHSA. Lakukan dengan tekun dan degan kesungguhan hati serta sabar, tidak lekas merasa bosan. Jangan tergesa gesa mengharapkan hasil yang banyak, ibarat kita menanam pohon buah buahan, berapa bulan bahkan tahun baru mengenyam hasilnya, itupun kalau kita rajin memeliharanya. Adapun kegunaannya latihan pernafasan sebagai olah jiwa adalah sbb.: 1. Memupuk dan mmpertinggi “stamina” atau daya ketahanan diri pribadi agar dijauhkan dari serangn penyakit dalam (jantung, paru-2 dsb). 2. Memupuk ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi segala tantangan hidup, terlatih untuk menguasai diri. 3 .Menuntun kita pada “mengenal diri pribadi” dan mengantar kita menjadi manusia yang utuh bulat. 4. Memperkuat dan mempertinggi landasan ber “IMAN” untuk mewujudkan “kemanusiaan yang adil dan beradab” disertai ” budi pekerti luhur tahu benar dan salah”. Uraian singkat diatas adalah susunan kata-2 dan dijadikan kalimat, kalimat “mati” yang tidak bermakna, tidak hidup, tidak berjiwa bila tidak dijiwai oleh jiwa para warga PSHT sendiri.
Arti dan Makna Lambang PSHT 1. Segi empat panjang - Bermakna Perisai. 2. Dasar Hitam - Bermakna kekal dan abadi. 3. Hati putih bertepi merah - Bermakna cinta kasih ada batasnya. 4. Merah melingkari hati putih - Bermakna berani mengatakan yang ada dihati/kata hati 5. Sinar - Bermakna jalannya hukum alam/hukum kelimpahan 6. Bunga Terate - Bermakna kepribadian yang luhur 7. Bunga terate mekar, setengah mekar dan kuncup. - Bermakna dalam bersaudara tidak membeda-bedakan latar belakang 8. Senjata silat - Bermakna pencak silat sebagai benteng Persaudaraan. 9. Garis putih tegak lurus ditengah-tengah merah - Bermakna berani karena benar, takut karena salah 10. Persaudaraan Setia Hati Terate - Bermakna mengutamakan hubungan antar sesama yang tumbuh dari hati yang tulus, ikhlas, dan bersih. - Apa yang dikatakan keluar dari hati yang tulus. - Kepribadian yang luhur. 11. Hati putih bertepi merah terletak ditengah-tengah lambang - Bermakna netral Diambil dari AD/ART PSHT Hasil Mubes 2000
KH. Masbuhin Faqih Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin | Akal Tidak Membawa Kebahagiaan
Sebagai orang muslim yang mu'min kita harus memahami bahwa kita adalah hamba Allah. Kita adalah pengabdi kepada Allah. Allah adalah tuhan kita yang menciptakan kita dan memberikan kepada kita kehidupan di dunia ini. Sebagai seorang hamba kita harus mematuhi perintah tuhannya. Menurut syari'ah kita harus menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah. Kepada segala titah Allah kepada kita harus kita sikapi dengan sami'na wa atho'na. Tak boleh ada kata membantah sedikitpun kepada perintah Tuhan. Karena Allah sebagai pencipta memegang otoritas tertinggi dalam kehidupan ini. Disinilah letak kehambaan kita diuji. Apakah kita termasuk hamba Allah yang to'at atau hamba Allah yang maksiat kepada Nya. Apakah kita termasuk hamba yang bintang atau hamba yang binatang. Batasannya terletak pada ketaatan dan kepatuhan kita. Bila kita patuh dan taat pada Allah, menjalankan syari'at-syari'at Islam, maka kita termasuk hamba yang masih menyadari tentang kemanusiaan dan kehambaan kita. Namun sebaliknya bila kita selalu berbuat maksiat kepada Allah dan tidak menjalankan syari'at-syari'atnya maka kita termasuk orang yang belum menyadari tugas dan fungsi kita sebagai hamba dan manusia di dunia ini. Bahkan oleh Allah orang-orang yang tidak fungsi dan perannya sebagai manusia dan kehambannya sehingga mengabaikan tugasnya sebagai manusai dan kehambaannya maka ia tak lebih dari seekor binatang. Dunia tak lebih hanyalah sebuah penjara bagi kehidupan orang-orang mukmin. Addunya sijnul mu'min. Selain mu'min kebebasan di dunia adalah miliknya. Bila ada seorang mu'min yang melakukan kebebasan tanpa batas maka perlu dipertanyakan kapasitas kemukminannya. Aturan-aturan agama menjadi pengikat bagi terarahnya kehidupan umat muslim menuju kearah kehidupan yang Islami. Begitu indahnya hidup ini bila semuanya tertib dan teratur. Islam sungguh memperhatikan kepada kehidupan hamba-hambanya. Seluruh lini kehidupan umat manusia telah diatur dalam ajaran-ajaran Islam. Segala aktifitas manusia sehari-hari diatur sedemikian rupa oleh Islam semata-mata hal ini untuk membimbing manusia menuju ke arah kehidupan yang tertib dan teratur. Justru dengan aturan itulah manusia di tuntut untuk menuju hidup bahagia. Namun banyak orang yang beranggapan keliru, mereka beranggapan bahwa dunia ini bebas, sebebas akal kita mampu menjangkau. Sejauh tindakan itu Rasional, Logis, Masuk akal, maka tindakan itu benar menurut manusia. Perlu diketahui bahasa akal manusia ada batasnya, orang tak selamanya mampu menjangkau rahasia dibalik perintah Allah. Begitu banyak ciptaan Allah yang manusia sendiri lemah untuk melacaknya. Banyak sekali perintah Allah yang manusia sendiri tak akan mampu mencari jawab kemanfaatannya. Siapapun tahu Umar Bin Khottob. Betapa cerdas dan inteleknya dia, Umar sangat dikenal dengan keteguhan prinsipnya. Tak mudah menggoyahkan keteguhan Umar. Namun suatu tempo ia melakukan sebuah pekerjaan remeh yang bagi Umar tak masuk akal: mencium Ka'bah, namun dilakukannya. Mengapa, karena patuh pada Rosul. Sebuah pemegang otoritas syari'ah dihadapan Rosul, Umar Si cerdik cendekia itu luluh, mengapa? Karena ia tahu bahwa yang dilakukan Rosul adalah benar. Dan itu adalah wahyu, dibalik Ka'bah itu tersirat sebuah rahasia yang Umar sendiri tak tahu jawabnya. Hingga dengan nada menolak dia mengatakan; Andaikan bukan Rosulullah yang menyuruhnya, Aku tak akan melakukan. Kisah di atas mengisahkan sebuah kesimpulan. Bahwa kebebasan Rasional tak selamanya dapat dibenarkan. Kebebasan akal akan dipagari oleh aturan-aturan Agama, syari'ah dan ajaran-ajaran Allah. Akal tak dapat melarikan jawaban-jawaban bagi suriyah (kerahasiaan) aturan-aturan Allah yang oleh sebab itu akal harus tunduk kepada ajaran Agama. Itulah islam : pasrah, tunduk dan menyerahkan sepenuhnya kepada aturan-aturan Allah. Termasuk juga memasrahkan akal untuk menuruti apa kata Tuhan. Karena keterbatasan akal itulah Alah mengutus seorang Rosul. Fugsinya antara lain menjadi penjelas ajaran-ajaran Allah kepada manusia, Rosul ditugaskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang dari umat manusia mengenai problematika Agama yang melilit kehidupan umat. Karena keterbatasan akal itulah jangan sekali-kali mengagung-agungkan akal. Akal, dalam persoalan kehidupan harus diletakkan setelah al-Qur'an dan Hadits. Menomorsatukan akal sama halnya dengan mengkultuskan kesemuannya. Karena akal memang bersifat semu, yang benar hanya ajaran-ajaran Agama. Apalagi bila kita sadar akan pertanggung jawaban kelak di Akhirat. Dimana semua perbuatan manusia akan dilaporkan kepada Tuhannya. Semua telah mafhum bahwa kelak akan ada kehidupan lagi setelah kematian. Pada fase kehidupan itu seluruh insan akan memberikan catatan-catatan kehidupannya. Pada fase inilah manusia akan mencari pertolongan masing-masing. Hanya syafa'at dari pada kekasih Allah yang mampu menolong manusia dari jurang neraka. Disinilah letak pentingnya menggantungkan amal kita kepada para Rosul, para pendahulu kita, sahabat dan para kekasih Allah. Mengikuti mereka berarti berupaya mengharapkan syafa'at dari mereka kelak, akal kita hanyalah representasi dari nafsu kita. Mengikuti akal (dengan melampaui ketetapan Allah) berarti membawa kita ke arah kesesatan, karena ia nafsu. Bukan kebahagiaan, karena kebahagiaan dapat diraih kelak ketika syafa'at para kekasih Allah diturunkan kepada kita melalui kepatuhan sam'an wa thoatan, ketundukan dan kenurutan kita pada ajaran-ajaran Muhammad, sahabat yang kita kenal dengan Ahlussunnah wal jama'ah. Apa yang telah dibakukan oleh para salafus sholih merupakan harga mati yang tak boleh ditawar. Hal ini bila kita menginginkan kebahagiaan. Bukan apa yang diinginkan oleh akal. Akal tak mampu membawa kepada kebahagiaan. Sekarang terserah pada diri masing-masing. Bila masih cinta, sayang dan taat pada Guru, atau bila masih menginginkan pertolongan kelak dihadapan Allah nanti, maka ikutilah apa yang dikatakan oleh Agama, membuat aturan sendiri menurut kehendak akalnya. Logat akal manusia terbatas, sering salah dan tak mampu membawa ke arah kebahagiaan! Wallahu a'lam bisshawab.
| |